Kamis, 29 Desember 2011

Mengentip (sedikit) Tentang Demografi

Demografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur dan proses penduduk. Struktur penduduk meliputi jumlah, penyebaran, dan komposisi penduduk. Sedangkan Proses penduduk meiputi kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan migrasi.
Sumber data demografi dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu;
1.      Sensus Penduduk
Penghitungan seluruh penduduk yang ada di siuatu negara yang dilaksanakan selama sepuluh tahun sekali
2.      Registrasi Penduduk
Adalah cara mendata penduduk yang dilaksanakan pada setiap peristiwa yang dialami penduduk. Peristiwa tersebut melliputi kelahiran, kematian, perkawinan, dan migrasi. Pencantatan ini dilakukan oleh berdasar laporan dari penduduk .
3.      Survei Penduduk
Kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti dari bidang keahlian tertentu dengan kebutuhan dan tujuan tertentu. Waktunya tidak ditentukan tergantung dengan kebutuhan peneliti.
Hasil data yang diperoleh dapat diolah untuk berbagai kepentingan dan penentuan kebijakan dibidang kependudukan. Bentuk olahan tersebut antara lain;
A.    Pro Rating
Tabel-tabel hasil sensus penduduk yang belum mengalami perapian biasanya dijumpai kategori yang tidak terjawab (not stated). Jika jumlah penduduk yang tergolong kategori ini relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan, maka kelompok penduduk ini dapat disebarkan ke keseluruhan kelompok-kelompok lain dengan menggunakan teknik pro-rating. Teknik ini dapat dikerjakan dengan dua cara,
1.      Mengalikan masing-masing kelompok penduduk dengan suatu faktor pengali (R) 
               R=     Jumlah Penduduk          
                      Jumlah Penduduk-TT/NT
2.      Jumlah kelompok umur tertentu ditambah dengan hasil perkalian proporsi penduduk kelompok tersebut dikalikan dengan jumlah penduduk yang tidak terjawab.
B.     Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio, SR)
Rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang dihitung dalam 100 penduduk perempuan.
SR=     Jumlah Penduduk Laki-laki X 100
            Jumlah Penduduk Perempuan
Dimisalkan penduduk desa X memiliki nilai SR 102, maka dapat disimpulkan bahwa untuk setiap 102 penduduk laki-laki sebanding dengan 100 penduduk perempuan
C.    Rasio Beban Tanggungan (Dependency Ratio, DR)
Secara ekonomis penduduk yang berusia 0-14 tahun dianggap sebagai penduduk yang belum produktif, begitu juga dengan kelompok umur yang berusia 65 tahun keatas sudah dikatakan sebagai kelompok penduduk yang tidak lagi produktif. Penduduk yang produktif berkisar antara umur 15-64 tahun, maka Rasio Beban Tanggungan dapat dihitung dengan rumus:
DR= (Penduduk Usia 0-14 th + Penduduk usia 65+th) X 100
                             Penduduk Usia 15-64  th
Apabila diketahui angka DR = 89 maka dapat disimpulkan bahwa setiap 100 orang kelompok penduduk produktif harus menanggung 89 kelompok yang tidak produktif. Semakin besar angka DR maka beban yang ditanggung oleh orang-orang yang produktif semakin tinggi.
D.    Pemecah Umur
Untuk keperluan tertentu, biasanya kelompok umur 10 atau 5 tahunan perlu dipecah kedalam kelompok 1 tahunan. Untuk pemecah kelompok umur 5 tahunan dapat dengan Faktor Pengali Sparague.
Kelompk umur dalam pengitungan ini dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:
0 – 4
First end-panel
5 - 9
First next to end-panel
10 – 14
Mid panel
·          
·          
65 – 69
70 - 74
Last next to end-panel
75+
Last end-panel
Kelompok end-panel tergantung nilai usia kelas paling akhir. Selanjutnya dari kelompok umur di atas dikalikan dengan tabel Sprague Multipliers.

TABEL SPRAGUE MULTIPLIERS

N1
N2
N3
N4
N5

FIRST END-PANEL
n1
0,3616
-0,2768
0,1488
-0,0336
-
n2
0,2640
-0,0960
0,0400
-0,0080
-
n3
0,1840
0,0400
-0,0320
0,0080
-
n4
0,1200
0,1360
-0,0720
0,0160
-
n5
0,0704
0,1968
-0,0848
0,0176
-

FIRST NEXT TO END-PANEL
n1
0,0336
0,2272
-0,0752
0,0144
-
n2
0,0080
0,2320
-0,0480
0,0080
-
n3
-0,0080
0,2160
-0,0080
0,0000
-
n4
-0,0160
0,1840
0,0400
-0,0080
-
n5
-0,0176
0,1408
0,0912
-0,0144
-

MID PANEL
n1
-0,0128
0,0848
0,1504
-0,0240
0,0016
n2
-0,0016
0,0144
0,2224
-0,0416
0,0064
n3
0,0064
-0,0336
0,2544
-0,0336
0,0064
n4
0,0064
-0,0416
0,2224
0,0144
-0,0016
n5
0,0016
-0,0240
0,1504
0,0848
-0,0128

LAST NEXT TO END-PANEL
n1
-0,0144
0,0912
0,1408
-0,0176
-
n2
-0,0080
0,0400
0,1840
-0,0160
-
n3
0,0000
-0,0080
0,2160
-0,0080
-
n4
0,0080
-0,0480
0,2320
0,0080
-
n5
0,0144
-0,0752
0,2272
0,0336
-

LAST END-PANEL
n1
0,0176
-0,0848
0,1968
0,0704
-
n2
0,0160
-0,0720
0,1360
0,1200
-
n3
0,0080
-0,0320
0,0400
0,1840
-
n4
-0,0080
0,0400
-0,0960
0,2640
-
n5
-0,0336
0,1488
-0,2768
0,3616
-
E.     Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi atau batas suatu bagian dari negara. (Soemantri;114)
Migrasi terjadi karena adanya faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong adalah faktor yang berasal dari daerah asal yang menyebabkan orang tidak merasa nyaman. Hal ini bisa terjadi karena keterbatasan pendidikan, pekerjaan, keamanan, kebebasan, bencana dll. Sedangkan faktor penarik adalah faktor yang berasal dari daerah tujuan. Faktor ini dapat berupa peluang kerja yang melimpah, pendidikan yang memadahi, kebebasan, dan daerah aman yang menyebabkan orang tertarik untuk berpindah dari daerah asalnya.
 Berdasar lama waktu, migrasi dibagi menjadi migrasi seumur hidup (pendataan berdasar tempat kelahiran dan tempat tinggal sekarang) dan migrasi risen (pendataan berdasar tempat tinggal terakhir dan tempat tinggal sekarang).
F.     Proyeksi
Proyeksi penduduk adalah perhitungan jumlah penduduk (menurut komposisi umur dan jenis kelmain) di masa yang akan datang berdasarkan asumsi arah perkembangan fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Data penduduk yang dapat dipakai dan dipercaya untuk keperluan proyeksi adalah berasal dari sensus penduduk (SP) atau dari survei antar sensus (SUPAS).
Hasil proyek penduduk sanagat bermanfaat untuk perencanaan penyediaan kebutuhan pangan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas perumahan, dan fasilitas kesempatan kerja dan kebijakan kependudukan lainnya.
Proyeksi penduduk dapat dihitung melalui tiga cara yaitu:
1.      Aritmatik
Model Aritmatik menurut Klosterman (1990) adalah teknik proyeksi yang paling sederhana dari seluruh model.
Pn= Po (1+rn)
Pn         : jumlah penduduk tahun n
Po         : jumlah penduduk tahun dasar
r            : angka pertumbuhan penduduk
n           : periode waktu
Pertumbuhan penduduk pada penghitungan aritmatik mengasumsikan bahwa angka pertumbuhan pendudukanya sama setiap tahun.
2.      Geometri
Asumsi dalam model ini adalah penduduk akan bertambah/berkurang pada suatu tingkat pertumbuhan (persentase) yang tetap. Menurut Klosterman (1990), proyeksi dengan tingkat pertumbuhan yang tetap ini umumnya dapat diterapkan pada wilayah, dimana pada tahun-tahun awal observasi pertambahan absolut penduduknya sedikit dan menjadi semakin banyak pada tahun-tahun akhir. Model geometrik memiliki persamaan umum:
Pn= Po (1+r)n
Pn         : jumlah penduduk tahun n
Po         : jumlah penduduk tahun dasar
r            : angka pertumbuhan penduduk
n           : periode waktu
3.      Exponensial
Dari metode ini dapat diketahui angka pertumbuhan penduduk yang lebih akurat dan berapa jumlah penduduk pada tahun yang direncanakan. Hasil analisis jumlah penduduk yang dilakukan nantinya akan digunakan untuk mempermudah informasi sebagai bahan pertimbangan bagi perencanaan.
Pn=Po. ern
Pn         : jumlah penduduk tahun n
Po         : jumlah penduduk tahun dasar
r            : angka pertumbuhan penduduk
n           : periode waktu
e           : konstata 2,718281828

Sumber Acuan:
Badan Pusat Statistika, Sensus Penduduk Kalimatan Tengah Tahun 2000
Mantra, Ida Bagus.1985.Pengantar Studi Demografi.Yogyakarta:Nur Cahaya
Soemantri.2010.Demografi dan Kependudukan.Yogyakarta;UNY Press

Kamis, 06 Oktober 2011

“Industri Pariwisata Indonesia”

Geografi Industri 
Tolak ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan pembangunan industri disektor Pariwisata
Disusun oleh : Ana Indriyani 
10405241007
Pendidikan Geografi 
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

A.    INDUSTRI
Dalam perkembangannya industri tidak lagi bersektor pada pembangunan pabrik-pabrik besar saja, kini perkembangan industri juga merambah ke arah jasa. Salah satunya yang mulai menjadi trend saat ini adalah pariwisata.
Menurut  Oka A. Yoeti yang dimaksud dengan industri pariwisata adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan traveler pada umumnya, selama dalam perjalanannya. Sedangkan dalam UU N0. 9 tahun 1990 usaha pariwisata itu adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait di bidang tersebut.
Tolak ukur keberhasilan dalam pembangunan industri adalah:
1.      Terjadi perluasan dan perataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja
2.      Terdorongnya pembangunan ekonomi negara,
3.      Meninkatnya pendapatan nasional
4.      Meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Akan tetapi dalam industri pariwisata ditambahkan juga indikator keberhasilannya yaitu:
1.      Meningkatnya pembangunan daerah setempat
2.      Kenaikan pendapatan baik dari devisa atau dari pendapatan perkapita masyarakat
3.      Terciptanya rasa cinta tanah air
4.      Memperkaya kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkukuh jati diri bangsa
5.      Persahabatan antar bangsa semakin erat.
Perlu ditambahkan pula bahwa dalam upaya untuk mencapai keberhasilan industri tersebut pemerintah perlu memperhatiakan dan mewujudkan keterpaduan dalam kegiatan penyelenggaraan kepariwisataan, serta memelihara kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata agar industri pariwisata tersebut dapat bekelanjutan.

B.     PARIWISATA INDONESIA
Industri pariwisata di Indonesia sudah dimulai pada masa pemerintahan orde baru yaitu khususnya di daerah Bali yang menjadi daya tarik wisatawan dunia pada saat itu bahkan sampai sekarang. Fakta ini tentunya semakin meningkatkan semangat pemerintah untuk lebih memperhitungkan peranan dan pembangunan  industri pariwisata Indonesia.
Pembangunan Industri kini mulai digalakkan kembali setelah runtuhnya pemerintahan orde baru lenser dan berbagai ancaman terorisme di Indonesia yang sempat menurunkan daya tarik pariwisata. Namun, pada kenyataannya industri  ini masih menujukkan kehidupannya. Ini dibuktikan dengan artikel yang berjudul “Masih Mengandalkan Bali” pada www.mediaindonesia.com yang ditulis oleh Asnawi Khaddaf pada Minggu, 18 September 2011 10:25 WIB. Dalam artikel itu dikatakan bahwa:

“SEBAGIAN besar wisatawan India ke Indonesia menjadikan Bali sebagai tujuan utama. Promosi pariwisata  Bali ke India tampaknya memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Turis India ke Bali pun terus bertambah.
Data di Dinas Pariwisata Bali menyebutkan kedatangkan turis India ke Bali hingga pertengahan tahun ini tercatat sekitar 30 ribu orang, bertambah banyak dibandingkan dengan periode sama 2010 yang hanya  sekitar 20 ribu orang.”
Melonjaknya jumlah wisatawan asal India ke Bali ini tidak lepas dari gencarnya kegiatan-kegiatan promosi, baik oleh pemerintah maupun industri pariwisata.”

Kutipan tersebut merupakan satu dari banyak artikel tentang ke-eksistensian Bali sebagai tujuan utama pariwisata. Promosi ke India ini ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan. Dengan kedatangan wisatawan India ke Bali ini tentunya meningkatkan devisa yang diterima negara serta menambah penghasilan untuk hotel, restoran maupun berbagai komponen pariwisata yang berkaitan. Jumlah sebanyak 30 ribu orang ini baru sebatas warga India, belum lagi ditambah wisatawan mancanegara lain. Melihat hal ini tentunya akan menarik berbagai investor ke Bali serta memunculkan berbagi pekerjaan baru seiring dengan bertambahnya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi.
Tidak hanya Bali yang mejadi tujuan wisata sekarang ini namun berbagai tempat di Indonesia mulai dijadikan alternatif baru. Selain Bali banyak juga kota-kota besar seperti Yogyakarta, Solo, Sumbawa dll. Akan tetapi, kini yang mulai digencarkan adalah daerah Wakatobi, Bangka, dan terutama Lombok.
Pulau Lombok kini memulai karirnya di Industri Pariwisata dan diharapkan bisa menyaingi Pulau Bali. Pembangunan Industri di lombok kini terlihat jelas dengan diresmikannya Bandara Internasional Lombok pada 1 Oktober 2011 lalu (http://bisnis.vivanews.com). Menurut saya, setelah diresmikannya bandara internasional ini tentu akan semakin mendorong perkembangan industri pariwisata di Lombok.
Pembangunan pariwisata lebih pesat lagi setelah Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) or Pasar Wisata Indonesia yang sudah berlangsung di Lombok dan yang akan datang di Lampung.  TIME bertujuan untuk mempertemukan industri pariwisata sebagai penjual dengan pembeli dari luar negeri untuk melakukan transaksi produk pariwisata di Indonesia.
Kompas.com Selasa, 4 Oktober 2011 12:39 WIB dalam “Bandar Lampung Jadi Tuan Rumah TIME”

Ketua Steering Comittee TIME 2011 Meity Robot mengungkapkan, TIME 2011 ini akan diikuti oleh puluhan buyers dari 28 negara.
“Sampai saat ini, sudah terdaftar 82 buyers. Tetapi, kami berharap, sampai dimulainya acara, ada 100 buyers yang mengikuti pasar wisata ini,” kata Meity.
Untuk para penjual, lanjut Meity, terdapat sekitar 77 sellers dari berbagai instansi, organisasi, dan badan usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelaksanaan TIME 2011 akan diadakan di Hotel Novotel, Bandar Lampung. Sapta mengungkapkan, TIME 2011 akan dilaksanakan berbarengan dengan Festival Krakatau 2011 untuk mengenalkan wisata budaya, sejarah, ataupun kuliner di Lampung. Penyelenggaraan TIME di Sumatera ini untuk mendorong lebih banyak investor mengembangkan hotel baru dan produk wisata lainnya, sekaligus untuk mempercepat pembangunan infrastruktur serta fasilitas-fasilitas pariwisata.
“Dengan modal sekitar Rp 5 miliar, kami menargetkan transaksi meningkat 10 persen hingga 15 persen dari TIME tahun 2010 di Lombok yang menghasilkan transaksi senilai 17,5 juta dollar AS,” kata Meity menambahkan.

Dengan banyaknya sellers pariwisata di Indonesia ini menunjukkan partispasi masyarakat dalam industri pariwisata. Kemajuan industri ini juga ditunjukkan dengan banyaknya pendaftar sebagai buyers dari berbagai negara. Tentunya ini diharapkan dapat membantu indusri pariwisata Indonesia menjadi lebih maju lagi jika melihat hasil dari TIME sebelumnya di Lombok sehingga peningkatan sarana dan prasarana kepariwisataan bisa lebih baik serta pembangunan daerah terkait pun meningkat.
Selain dalam segi keuntungan, Industri pariwisata juga dirasa mampu mengembangkan rasa nasionalisme dengan mencintai produk budaya dalam negeri. Banyak budaya yang kini dijadikan atraksi wisata untuk wisatawan mancanegara sebagai wujud kontribusinya terhadap sektor pariwisata.
Akan tetapi dari sekian banyak kemajuan tersebut, Indonesia juga pernah mengalami kegagalan dalam industri pariwisata. Seperti halnya pada tahun 2010 lalu dalam http://baliholidayinfo.com, Ketua Perawatan Pariwisata, Wuryastuti Sunario mengeluhkan kegagalan dalam sektor penerbangan nasional untuk mendukung pengembangan pariwisata tujuan nasional.

“"Tanpa komitmen dan dukungan dari maskapai penerbangan, yang memiliki posisi fundamental dalam penetapan harga, sulit bagi pemerintah provinsi dan industri pariwisata untuk mempromosikan tujuan mereka," jelas Sunario.Melanjutkan, Sunario dikutip on-line penjualan tiket dengan harga tinggi selama periode liburan puncak sebagai mendorong wisatawan domestik untuk mengunjungi tujuan dapat diakses melalui jalan darat dan feri, seperti Bali dan Yogyakarta, meninggalkan tujuan menarik lainnya siap dan bersemangat untuk menerima pengunjung.Dia menggarisbawahi ketidakmampuan maskapai penerbangan Indonesia untuk bekerja sama dengan agen-agen perjalanan untuk memberikan harga khusus untuk paket liburan.
.........
Kegagalan maskapai penerbangan untuk merangsang perjalanan domestik di Indonesia menyebabkan banyak tujuan, yang membentang dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua, untuk kehilangan pangsa pasar pariwisata. Karena itu, dalam pandangan Sunario, seluruh generasi muda Indonesia yang kehilangan kesempatan berharga untuk mengetahui dan cinta tanah air mereka.”

Dalam kasus ini, dapat dilahat kegagalan dalam pembangunan industri pariwisata yaitu kurangnya dukungan dari berbagai sektor. Kurangnya dukungan tidak semata-mata kesalahan maskapai penerbangan tapi mungkin juga peranan pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang mendunkung, juga daya tarik tempat tujuan yang kurang. Seharusnya dalam pengembangan ini perlu konsep dan dukungan yang matang agar semua komponen dapat mendukung industri pariwisata.

SUMBER:
Atje, Suherman, Sarinah.2011. ASPEK-ASPEK HUKUM KETENAGAKERJAAN DALAM PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA SEBAGAI INDUSTRI GAYA BARU DALAM RANGKA MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA. Diunduh dari http://dwienieez.wordpress.com/2011/05/27/aspek-aspek-hukum-ketenagakerjaan-dalam-pembangunan-industri-pariwisata-sebagai-industri-gaya-baru-dalam-rangka-menciptakan-lapangan-kerja/ diunduh pada  tanggal 5 Oktober 2011