Senin, 06 Maret 2017

Curug Banyunibo; Seri Perjalanan Menembus Hujan Part 1

“Saya sepertinya banyak sekali melihat dunia. Tapi saya tak peduli seberapa banyaknya itu ketika ada orang yang ada di samping saya. Tempat yang sama tapi selalu berbeda rasa tergantung dengan siapa kita bersama.”
AI _21 Februari 2017

Curug Banyunibo, dingin-dingin sejuk
Tempat yang jarang dikunjungi, tempat yang sulit dijangkau, jalan yang belum pantas di sebut sebagai jalan. Sepertinya kalimat-kalimat itu bukanlah hal yang asing  bagi saya. Tapi hari ini saya nekat. Saya yang biasa blusukan dengan roda dua kali ini mengambil keputusan dengan jalan menggunakan roda empat. Bukan saya nyombong, tapi karena beberapa faktor yaitu hujan dan juga penumpang. Kali ini saya tidak berdua melainkan bersama keluarga. Ecieee....

Hari Senin, eh bukan berarti saya bolos kerja loh ini. Semenjak saya dipindahkan tempat, saya mendapat jatah libur hari senin. Di mana semua orang mulai bermalas-malasan menghadapi hari Senin, saya justru sebaliknya. Bersemangat sekali ketemu hari Senin. Nah loh! Gimana rutinitas saya tuh nantinya. Saya kali ini bertamasya memanfaatkan hari Senin. Semoga sepi! Haha
Tapi sepertinya cuaca pagi ini kurang well. Sudah dari Minggu malam sampai Senin pagi hujan tak kunjung reda. Satu-satunya jalan hanya bisa menunggu karena tujuan kami tidak akan lengkap tanpa adanya sinar matahari.

Waktu terus berlalu, jam demi jam terlewati. Sudah pukul 11.00 dan belum ada tanda-tanda akan terang. Padahal kami sudah bersiap, si kemenakan sudah saya suruh bolos dari pagi (ups), dan kebutuhan sudah ada di kantong dan tangan. Tidak ada pilihan lagi, terobos atau tidak sama sekali. Nah, jadilah perjalanan kami dihantarkan oleh hujan. Ah, Allah menurunkan rejeki bersama dengan turunnya hujan, jadi nggak apa-apa kalau rejekinya pasti nggak kemana. Pikiran saya.

Berangkatlah kami berdua, Ibu dan Bapak tercinta, kakak dan juga kemenakan saya untuk jalan-jalan. Arahnya tentu saja tak jelas. Setelah bermain googling sana-sini sambil jalan kami memutuskan untuk pergi ke Curug Banyunibo yang ada di  dusun Sanggrahan 2, Muntuk, Dlingo, Muntuk, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta  Masih satu kompleks dengan wisata hutan pinus yang ada di wilayah Bantul.

Kami mengambil rute lewat Pleret dan lurus saja mengikuti jalan tersebut. Jalan alternatif yang untuk ukuran mobil termasuk sempit dan berbukit-bukit dilengkapi dengan tanjakan dan tikungan tajam. Lengkap! Belum lagi ada colt di depan kami yang sempat tidak kuat dan membuat kami yang ada dibelakangnya dig dug deg serr melihatnya. Kami pikir semuanya sudah selesai, tapi tidak sampai di situ saja. Tantangan kami berlanjut ketika sudah memasuki desa Muntuk. Jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil membuat kami kesusahan untuk putar arah (oke nyasar itu rumus wajib), membuat kami harus saling mengalah (dengan mobil lain, sabar dan murah senyum nih orang sekitar sini pas saling gantian jalan), dan juga menahan nafas ketika jalannya mepet sekali dengan tebing. Ini kali pertamanya kami memutuskan blusukan dengan roda empat. Tidak recomended banget rasanya.

Curug Banyunibo Beda Angle
Sampai di tempat parkir yang ada di rumah warga terdekat dengan lokasi wisata tiba-tiba aja hujan. Oh God! Untung kami membawa banyak payung yang akhirnya termanfaatkan. Seperti ciri khas setiap air terjun, kami harus jalan menurun terlebih dahulu untuk bisa sampai ke bawah. Ibu dan kemenakan saya tertinggal. Keduanya takut melihat lokasi yang cukup licin. Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu. Kami berempat akhirnya memutuskan untuk melihat situasi terlebih dahulu dan ternyata jalannya termasuk yang tidak berat menurut saya. Hanya perlu jalan sedikit dan sudah sampai. Padahal biasanya untuk menuju lokasi air terjun membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah fixing kamera, saya kembali untuk menjemput Ibu dan kemenakan.

Air terjun Banyunibo tidak terlalu tinggi, banyak terdapat batu terjal yang menurut pengamatan saya sangat berbahaya untuk di naiki. Air terjun ini tidak memiliki spot yang cocok untuk mandi. Dari segi lingkungannya, terdapat satu gubuk kecil (begitu saya menyebutnya) yang dibangun di atas sebuah batu  dan untuk mengaksesnya terdapat sebuah jembatan bambu. Selain itu, di sekitar lokasi juga ada rumah untuk berteduh jikala hujan. Cukup cozy dan asri ditengah lebatnya hutan. Tempat yang cocok untuk melamun dan membuang kepenatan.

Seperti biasa, ritual saya adalah mengambil foto. Jadi lebih dari 50% kegiatan kami adalah mengambil foto lantas cabut begitu saja. Kondisi cuaca yang masih gerimis romantis tidak membuat kami berlama-lama di tempat ini dan langsung saja kami meneruskan perjalanan kami yang masih panjang.

Waktu saya datang ke sini, saya tidak ditarik tarif masuk wisata. Saya tidak tahu,  apa karena itu hari Senin yang notabene sepi (cuma ada kami di sana) jadi tidak ada yang jaga atau memang belum ada. Jadi saya hanya mengeluarkan uang untuk parkir dan itu saja sukarela. Di tempat ini sudah ada tanda/sign jalan, walau kurang jelas tapi cukup membantu. Mungkin kedepannya akses ke sana lebih dipermudah dengan petunjuk yang jelas dan pengelolaan yang pas. Kalau masalah jalan yang diperlu diperlebar saya tidak terlalu  mempermasalahkan mengingat lebarnya jalan ya cuma segitu.

Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Becici. Hujan sudah reda, matahari berlum terlihat, tapi tanda-tanda akan cerah sudah mulai muncul. Pertanda baik!

Narsis itu Rumus Wajib

Biar eksis foto lagi,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar