Kamis, 08 Juni 2017

Museum Mini Sisa Hartaku; Belajar Percaya Dengan Kenyataan

"Manusia sering sombong berdiri di atas bumi yang bukan milikinya,maka jangan salahkan bumi jika mereka berdiri diatas apa yang memang menjadi miliknya"
- AI -
Koleksi Museum Mini Sisa Hartaku
Saya selalu menghela nafas panjang jika melewati jalur menuju museum ini. Ingatan saya kembali ke tahun sebelum letusan merapi tahun 2010. Saya sudah cukup besar waktu itu untuk meningat setiap detail wilayah yang kini rata. Tidak ada yang tersisa di sana kecuali kengerian akan hari-hari tanpa kehidupan itu. Hanya pengingat untuk membuat kita eling lan waspada.

Senin, 15 Mei 2017

Lava Tour Merapi; Tidak Hanya Sebatas Wacana

Bungker Kaliadem

"Teman adalah sebuah mimpi. Datang dan perginya tidak dapat kita tolak maupun kita harapakan, mereka ada saat kita benar-benar membutuhkan. Tapi kita juga tidak bisa mengatakan bahwa mereka tidak pernah ada."
AI_1 Mei 2017

Sudah lama sekali sepertinya tidak berjumpa dengan teman-teman saya yang satu ini para (keluarga) edukator museum. Berawal dari suatu malam ketika kami menyesap secangkir kopi bersama, kami mencetuskan untuk trip bersama. Trip yang tidak terlalu jauh, namun sangat berkesan. Saat itulah kami memutuskan untuk melakukan Lava Tour di kaki bukit Gunung Merapi.

Tim yang rapuh, banyak yang meragukan apakah kita benar-benar akan melakukannya. Sebuah guyonan yang sangat garing karena kebanyakan acara yang kita buat berujung menjadi wacana. Menyedihkan mengingat aktivitas kami yang berbeda. Akhirnya setelah memberi tahu melalui japrinan. Berangkatlah 12 orang yang lagi-lagi dipertemukan oleh keinginan yang sama. Menikmati hidup, bersenang-senang, sekaligus bersilaturahmi.

Rabu, 26 April 2017

Tentang Kamu novel by Tere Liye; Iklaslah, maka Kehiklasan itu akan Merengkuhmu dalam Kedamaian

"Keikhlasan itu memang hal yang sulit, tapi sulit tidak berarti tidak mungkin... Namun, benar adanya, bahwa selama kita ikhlas, maka yang kita punya adalah kebahagiaan pernah mengalaminya."
AI 21 April

Judul : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika 
Tebal Buku : 524 hal
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016

Sinopsis
Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. 
Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. 
Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.


Saya berkali-kali jatuh cinta. Entah apa genre saya sebenarnya, tapi Tere-Liye tidak pernah atau setidaknya belum pernah mengecewakan saya. “Tentang Kamu” ini menjadi salah satu cerita yang sangat menyentuh hati.

Rabu, 05 April 2017

Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita; Sebuah Makna di Balik Hari Ibu


“Terlahir sebagai seorang wanita, bersamaan dengan itu pulalah terlahir juga bersamanya kewajiban untuk menjaga...”
~AI~

Kalimat saya terhenti, menjaga apa?

Dan saya membiarkan pertanyaan itu menggantung di benak masing-masing manusia yang terlahir sebagai wanita. Sebanyak apapun tulisan saya, kalimat itu tidak akan pernah terselesaikan seperti layaknya kasih sayang ibu. Seperti layaknya air yang mengalir, roda yang berputar, tidak akan pernah berhenti sampai kewajibannya terpenuhi.

Senin yang sepi, hari liburan saya yang berharga saya habiskan dengan berjalan-jalan di museum. Setelah dua tahun, saya baru bisa ke Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita sekarang (2017).  Museum ini lokasinya ada di JL. Adisucipto No. 88, kompleks Gedung Mandala Bakti Wanitatama tepatnya di Gedung Srikandi.

Senin, 06 Maret 2017

Curug Banyunibo; Seri Perjalanan Menembus Hujan Part 1

“Saya sepertinya banyak sekali melihat dunia. Tapi saya tak peduli seberapa banyaknya itu ketika ada orang yang ada di samping saya. Tempat yang sama tapi selalu berbeda rasa tergantung dengan siapa kita bersama.”
AI _21 Februari 2017

Curug Banyunibo, dingin-dingin sejuk
Tempat yang jarang dikunjungi, tempat yang sulit dijangkau, jalan yang belum pantas di sebut sebagai jalan. Sepertinya kalimat-kalimat itu bukanlah hal yang asing  bagi saya. Tapi hari ini saya nekat. Saya yang biasa blusukan dengan roda dua kali ini mengambil keputusan dengan jalan menggunakan roda empat. Bukan saya nyombong, tapi karena beberapa faktor yaitu hujan dan juga penumpang. Kali ini saya tidak berdua melainkan bersama keluarga. Ecieee....

Hari Senin, eh bukan berarti saya bolos kerja loh ini. Semenjak saya dipindahkan tempat, saya mendapat jatah libur hari senin. Di mana semua orang mulai bermalas-malasan menghadapi hari Senin, saya justru sebaliknya. Bersemangat sekali ketemu hari Senin. Nah loh! Gimana rutinitas saya tuh nantinya. Saya kali ini bertamasya memanfaatkan hari Senin. Semoga sepi! Haha