Rabu, 05 Oktober 2016

Sukuh: Misteri Portal Kuno Di Gunung Lawu

Percaya atau tidak percaya adalah hak masing-masing individu. Bagi saya pemahaman baru itulah yang penting. Dari ketidaktahuan saya inilah yang membuat saya mulai penasaran untuk “membaca” lebih banyak lagi tentang Nusantra, “membaca” lagi sejarah negeri ini.
AIANA_4 Oktober 2016

Judul
Sukuh: Misteri Portal Kuno Di Gunung Lawu
Penulis
Rizki Ridyasmara
Penerbit
Grasindo
Tahun Terbit
April 2016
ISBN
9786023754243 
Jumlah Halaman
349 halaman 



Sebuah portal masuk ke dimensi lain dan juga waktu (Vortex Gate) dipercaya tersimpan jauh di dalam perut Gunung Lawu—salah satu wilayah paling mistis di Pulau Jawa. Dalam salah satu frasa pembuka novel The Lost Symbol, secara tersirat Dan Brown menuliskan hal itu. Adalah fakta jika pada 1995, NASA menjejak sebuah sinar putih misterius di luar angkasa yang memancar dari daerah ini. Koordinat portal kuno jadi rebutan. Portal yang diyakini akan membuka kebohongan-kebohongan sejarah Nusantara.
Novel ini menyodorkan kejutan demi kejutan yang akan menyentak wawasan kita, hingga sejarah mau tidak mau harus ditulis ulang. Ikuti petualangan Doktor Grant di Gunung Lawu setelah petualangan pertamanya dalam menyingkap misteri simbol-simbol iblis di Jakarta.
Sukuh, dan tiga situs besar lainnya di Gunung Lawu, akanmembuka misteri sejarah para leluhur Nusantara, tempat peradaban manusia di bumi berasal. Banggalah menjadi anak- anak Nusantara!

Saya mengehela nafas panjang, panjaaaang sekali setelah menutup halaman terakhir dari novel ini. Lagi-lagi karya Rizki Ridyasmara membuat saya bertanya-tanya tentang kebenaran dan berbagai fakta yang ditulis dalam novelnya kali ini. Benar tidak? Ini nyata atau tidak? Apakah ketika saya percaya akan membuat pemikiran saya semakin benar atau justru semakin tidak karuan? Entahlah...

Bagaimana saya memulai review ini? Susah sekali! Tapi, baiklah saya akan mencoba...

Bertemu lagi dengan Dr. John Grant (setelah membaca Jacatra Secret). Kali ini perjalanan Dr. Grant dituntun ke Sukuh setelah meninggalnya dua orang tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia sejarah dan juga ekonomi Indonesia. Kedua tokoh ini meninggal secara tidak wajar dan menitipkan pesan pada Dr. Grant untuk membuka rahasia tentang sejarah yang selama ini dibelokkan. Dr. Grant bersama istrinya, Jo akhirnya pergi ke Sukuh setelah menemui Kasturi (tokoh yang sama di Jacatra Secret). Perjalanannya ini memertemukannya dengan tokoh-tokoh berpengaruh lain dalam persaudaraan yang di sebut freedom fighter seperti Kusumo, Ki Mahendra, dan Fritz Tumpaka. Pertemuan ini membuka banyak sekali tabir sejarah yang mengelilingi situs-situs keramat di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh, Candi Cetho, Situs Planggatan, Candi Kethek, dll. Tidak hanya situs-situs ini saja, namun novel ini juga menceritakan tentang sejarah keagungan Nusantara di mana dari sinilah peradaban manusia berasal. Nusantara yang kejayaannya telah disembunyikan dalam perut bumi oleh para leluhurnya.

Sementara itu di sisi lain, kelompok persaudaraan lain juga ikut mengejar kelompok Dr. Grant. Mereka mengincar apa yang dititipkan oleh Prof. Sjoemandirgo sebelum terbunuh. Apapun harganya mereka harus mendapatkan koordinat penting yang dibawa oleh Dr. Grant. Perjalanan Dr. Grant dan teman-temannya ternyata sangatlah beresiko, nyawa yang dipertaruhkan dalam mengungkapkan sejarah sebenarnya dari “Nusantara”.

Secara garis besar begitulah ceritanya. Saya akan mulai dari keunggulan dari novel ini terlebih dahulu. Saya sangat menyukai semangat nasionalisme yang ditonjolkan dari novel ini. Boleh di berikan garis bawah yang tebal bahwa novel ini membuat kita untuk selalu mencintai Nusantara atau Indonesia. Mengingatkan kembali atas leluhur dengan masa kejayaannya sebelum dijajah. Membuat kita bangkit dan menjadi bangsa yang tidak kerdil. Kita diajak untuk melihat kembali siapa kita sebenarnya. Satu kalimat yang menurut saya keren adalah;
“Indonesian People! Your country is so rich. Indonesia doesn’t need the wolrd, but the world need Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you dont need the world” halaman 80.
Bagian yang saya beri tanda, banyak sekali!
Benar-benar menggugah batin, bahwa kita benar-benar bangsa yang besar.

Selain dari segi nasionalismenya, sisi lain dari novel ini yang menarik adalah sejarahnya. Banyak sekali bab yang memaparkan sejarah dalam novel ini. Baik sejarah dunia, sejarah nusantara, sejarah-sejarah lain yang baru kita ketahui dari membaca novel ini. Pokoknya, prisipnya adalah sakali mendayung dua tiga pulau terlewati. Banyak sekali bagian dari novel ini yang amazing!

Nah, kurangnya apa? Bagi penyuka Dan Brown seperti saya, novel ini masih sangat kurang dalam hal penentuan klimaks dari cerita. Bagi saya klimaks/konflik dalam novel ini tidak sampai puncak dan mengalami antiklimaks begitu saja. Membuat saya bertanya, ini masalahnya apa? Ini endingnya gimana? Gitu aja konfliknya? Dan pertanyaan lain. Saya belum tahu apakah ini berkaitan dengan seri kedua atau lanjutan lainnya, soalnya saya benar-benar tidak bertemu dengan konflik yang membuat saya merasakan deg-degan seperti saat saat membaca Dan Brown. Novel ini tidak menujukkan bahwa waktu adalah nyawa bagi tokoh utamanya. Perjalanan tokoh untuk sampai klimaksnya seolah dipenuhi dengan cerita secara lisan tanpa action yang berarti dari protagonisnya. Dari segi alur seperti itu. Dari segi tata bahasa, dibagian akhir novel ini ada beberapa yang typo dan juga ejaanya tidak benar, mungkin editor juga lelah membaca novel ini sampai berfikir ini novel atau buku sejarah sih? Hahahaha.

Nah karena prinsip mencela itu lebih mudah jadi saya cukupkan sekian saja untuk mengkritik novel ini. Novel ini benar-benar karya yang saya sukai jika dibandingkan novel lainnya. Sesempurna apapun karya Dan Brown saya lebih suka membaca sejarah Nusantara daripada sejarah Dunia yang begitu luas. Jadi bagi kalian pencinta novel konspirasi, baca buku ini dan minimal kalian akan mengoogling sejarah dan peninggalan leluhur negara kita sendiri, Indonesia.

Sebagai penutup saya ikut mengutip kalimat yang diulang bahkan hampir tiga kali dalam novel ini. Tulisan yang menurut saya sebagai pintu untuk kita melihat kembali siapa sebenarnya bangsa Indonesia itu. Dikutip dari Architects of Deception karya Juri Lina
“Tiga cara yang dilakukan oleh kolonialis dan imperealis untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri. Cara itu adalah: pertama, mengaburkan sejarahnya; kedua hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan atau dibuktikan kebenarannya dan ketiga memutuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan memberikan stigma jika leluhur itu bodoh dan primitif”
Keren kan?
Mari membaca!

Happy Reading!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar