Kamis, 06 Oktober 2011

“Industri Pariwisata Indonesia”

Geografi Industri 
Tolak ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan pembangunan industri disektor Pariwisata
Disusun oleh : Ana Indriyani 
10405241007
Pendidikan Geografi 
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

A.    INDUSTRI
Dalam perkembangannya industri tidak lagi bersektor pada pembangunan pabrik-pabrik besar saja, kini perkembangan industri juga merambah ke arah jasa. Salah satunya yang mulai menjadi trend saat ini adalah pariwisata.
Menurut  Oka A. Yoeti yang dimaksud dengan industri pariwisata adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan traveler pada umumnya, selama dalam perjalanannya. Sedangkan dalam UU N0. 9 tahun 1990 usaha pariwisata itu adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait di bidang tersebut.
Tolak ukur keberhasilan dalam pembangunan industri adalah:
1.      Terjadi perluasan dan perataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja
2.      Terdorongnya pembangunan ekonomi negara,
3.      Meninkatnya pendapatan nasional
4.      Meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Akan tetapi dalam industri pariwisata ditambahkan juga indikator keberhasilannya yaitu:
1.      Meningkatnya pembangunan daerah setempat
2.      Kenaikan pendapatan baik dari devisa atau dari pendapatan perkapita masyarakat
3.      Terciptanya rasa cinta tanah air
4.      Memperkaya kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkukuh jati diri bangsa
5.      Persahabatan antar bangsa semakin erat.
Perlu ditambahkan pula bahwa dalam upaya untuk mencapai keberhasilan industri tersebut pemerintah perlu memperhatiakan dan mewujudkan keterpaduan dalam kegiatan penyelenggaraan kepariwisataan, serta memelihara kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata agar industri pariwisata tersebut dapat bekelanjutan.

B.     PARIWISATA INDONESIA
Industri pariwisata di Indonesia sudah dimulai pada masa pemerintahan orde baru yaitu khususnya di daerah Bali yang menjadi daya tarik wisatawan dunia pada saat itu bahkan sampai sekarang. Fakta ini tentunya semakin meningkatkan semangat pemerintah untuk lebih memperhitungkan peranan dan pembangunan  industri pariwisata Indonesia.
Pembangunan Industri kini mulai digalakkan kembali setelah runtuhnya pemerintahan orde baru lenser dan berbagai ancaman terorisme di Indonesia yang sempat menurunkan daya tarik pariwisata. Namun, pada kenyataannya industri  ini masih menujukkan kehidupannya. Ini dibuktikan dengan artikel yang berjudul “Masih Mengandalkan Bali” pada www.mediaindonesia.com yang ditulis oleh Asnawi Khaddaf pada Minggu, 18 September 2011 10:25 WIB. Dalam artikel itu dikatakan bahwa:

SEBAGIAN besar wisatawan India ke Indonesia menjadikan Bali sebagai tujuan utama. Promosi pariwisata  Bali ke India tampaknya memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Turis India ke Bali pun terus bertambah.
Data di Dinas Pariwisata Bali menyebutkan kedatangkan turis India ke Bali hingga pertengahan tahun ini tercatat sekitar 30 ribu orang, bertambah banyak dibandingkan dengan periode sama 2010 yang hanya  sekitar 20 ribu orang.”
Melonjaknya jumlah wisatawan asal India ke Bali ini tidak lepas dari gencarnya kegiatan-kegiatan promosi, baik oleh pemerintah maupun industri pariwisata.”

Kutipan tersebut merupakan satu dari banyak artikel tentang ke-eksistensian Bali sebagai tujuan utama pariwisata. Promosi ke India ini ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan. Dengan kedatangan wisatawan India ke Bali ini tentunya meningkatkan devisa yang diterima negara serta menambah penghasilan untuk hotel, restoran maupun berbagai komponen pariwisata yang berkaitan. Jumlah sebanyak 30 ribu orang ini baru sebatas warga India, belum lagi ditambah wisatawan mancanegara lain. Melihat hal ini tentunya akan menarik berbagai investor ke Bali serta memunculkan berbagi pekerjaan baru seiring dengan bertambahnya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi.
Tidak hanya Bali yang mejadi tujuan wisata sekarang ini namun berbagai tempat di Indonesia mulai dijadikan alternatif baru. Selain Bali banyak juga kota-kota besar seperti Yogyakarta, Solo, Sumbawa dll. Akan tetapi, kini yang mulai digencarkan adalah daerah Wakatobi, Bangka, dan terutama Lombok.
Pulau Lombok kini memulai karirnya di Industri Pariwisata dan diharapkan bisa menyaingi Pulau Bali. Pembangunan Industri di lombok kini terlihat jelas dengan diresmikannya Bandara Internasional Lombok pada 1 Oktober 2011 lalu (http://bisnis.vivanews.com). Menurut saya, setelah diresmikannya bandara internasional ini tentu akan semakin mendorong perkembangan industri pariwisata di Lombok.
Pembangunan pariwisata lebih pesat lagi setelah Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) or Pasar Wisata Indonesia yang sudah berlangsung di Lombok dan yang akan datang di Lampung.  TIME bertujuan untuk mempertemukan industri pariwisata sebagai penjual dengan pembeli dari luar negeri untuk melakukan transaksi produk pariwisata di Indonesia.
Kompas.com Selasa, 4 Oktober 2011 12:39 WIB dalam “Bandar Lampung Jadi Tuan Rumah TIME”

Ketua Steering Comittee TIME 2011 Meity Robot mengungkapkan, TIME 2011 ini akan diikuti oleh puluhan buyers dari 28 negara.
“Sampai saat ini, sudah terdaftar 82 buyers. Tetapi, kami berharap, sampai dimulainya acara, ada 100 buyers yang mengikuti pasar wisata ini,” kata Meity.
Untuk para penjual, lanjut Meity, terdapat sekitar 77 sellers dari berbagai instansi, organisasi, dan badan usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelaksanaan TIME 2011 akan diadakan di Hotel Novotel, Bandar Lampung. Sapta mengungkapkan, TIME 2011 akan dilaksanakan berbarengan dengan Festival Krakatau 2011 untuk mengenalkan wisata budaya, sejarah, ataupun kuliner di Lampung. Penyelenggaraan TIME di Sumatera ini untuk mendorong lebih banyak investor mengembangkan hotel baru dan produk wisata lainnya, sekaligus untuk mempercepat pembangunan infrastruktur serta fasilitas-fasilitas pariwisata.
“Dengan modal sekitar Rp 5 miliar, kami menargetkan transaksi meningkat 10 persen hingga 15 persen dari TIME tahun 2010 di Lombok yang menghasilkan transaksi senilai 17,5 juta dollar AS,” kata Meity menambahkan.

Dengan banyaknya sellers pariwisata di Indonesia ini menunjukkan partispasi masyarakat dalam industri pariwisata. Kemajuan industri ini juga ditunjukkan dengan banyaknya pendaftar sebagai buyers dari berbagai negara. Tentunya ini diharapkan dapat membantu indusri pariwisata Indonesia menjadi lebih maju lagi jika melihat hasil dari TIME sebelumnya di Lombok sehingga peningkatan sarana dan prasarana kepariwisataan bisa lebih baik serta pembangunan daerah terkait pun meningkat.
Selain dalam segi keuntungan, Industri pariwisata juga dirasa mampu mengembangkan rasa nasionalisme dengan mencintai produk budaya dalam negeri. Banyak budaya yang kini dijadikan atraksi wisata untuk wisatawan mancanegara sebagai wujud kontribusinya terhadap sektor pariwisata.
Akan tetapi dari sekian banyak kemajuan tersebut, Indonesia juga pernah mengalami kegagalan dalam industri pariwisata. Seperti halnya pada tahun 2010 lalu dalam http://baliholidayinfo.com, Ketua Perawatan Pariwisata, Wuryastuti Sunario mengeluhkan kegagalan dalam sektor penerbangan nasional untuk mendukung pengembangan pariwisata tujuan nasional.

“"Tanpa komitmen dan dukungan dari maskapai penerbangan, yang memiliki posisi fundamental dalam penetapan harga, sulit bagi pemerintah provinsi dan industri pariwisata untuk mempromosikan tujuan mereka," jelas Sunario.Melanjutkan, Sunario dikutip on-line penjualan tiket dengan harga tinggi selama periode liburan puncak sebagai mendorong wisatawan domestik untuk mengunjungi tujuan dapat diakses melalui jalan darat dan feri, seperti Bali dan Yogyakarta, meninggalkan tujuan menarik lainnya siap dan bersemangat untuk menerima pengunjung.Dia menggarisbawahi ketidakmampuan maskapai penerbangan Indonesia untuk bekerja sama dengan agen-agen perjalanan untuk memberikan harga khusus untuk paket liburan.
.........
Kegagalan maskapai penerbangan untuk merangsang perjalanan domestik di Indonesia menyebabkan banyak tujuan, yang membentang dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua, untuk kehilangan pangsa pasar pariwisata. Karena itu, dalam pandangan Sunario, seluruh generasi muda Indonesia yang kehilangan kesempatan berharga untuk mengetahui dan cinta tanah air mereka.”

Dalam kasus ini, dapat dilahat kegagalan dalam pembangunan industri pariwisata yaitu kurangnya dukungan dari berbagai sektor. Kurangnya dukungan tidak semata-mata kesalahan maskapai penerbangan tapi mungkin juga peranan pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang mendunkung, juga daya tarik tempat tujuan yang kurang. Seharusnya dalam pengembangan ini perlu konsep dan dukungan yang matang agar semua komponen dapat mendukung industri pariwisata.

SUMBER:
Atje, Suherman, Sarinah.2011. ASPEK-ASPEK HUKUM KETENAGAKERJAAN DALAM PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA SEBAGAI INDUSTRI GAYA BARU DALAM RANGKA MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA. Diunduh dari http://dwienieez.wordpress.com/2011/05/27/aspek-aspek-hukum-ketenagakerjaan-dalam-pembangunan-industri-pariwisata-sebagai-industri-gaya-baru-dalam-rangka-menciptakan-lapangan-kerja/ diunduh pada  tanggal 5 Oktober 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar