Rabu, 10 April 2013

4 Hari, 4 Pelajaran, 1 Curhatan dan Harapan akan Kesadaran

Ni judul aneh amat sih? Kelihatannya penuh pemikirian padahal intinya cuma satu. Curhat. Lama tak bersua dan akhirnya aku memutuskan untuk menulis tulisan ini. Pentingkah? Ye mana gue pikirin, yang penting aku pengen nulis aja.

Pepatah mengatakan bahwa "Kita baru merasa sesuatu/seseorang itu penting saat dia nggak ada di samping kita" tapi jika ada, kadang semua yang ia lakukan bahkan kita nggak menyadarinya. Yang keterlaluan itu siapa sih? Hahaha... lagi-lagi hal ini tergantung pada sudut pandang.

Aku menulis ini karena tersadarkan, cielah... Moga insafnya nggak hanya sehari dua hari. Tapi selamanya.... AMIN! Usut punya usut, cerita punya asal, nah sadar ini juga punya proses nggak langsung turun dari langit. Ceritanya, aku mendadak jadi orang sibuk, bangun pagi tidur malam. Rekor tidur harianku yang bisa nyampe 8 jam kini terpecahkan menjadi 4 jam (yang efektif). Itung-itung sedikit (sekali) pengorbanan jika di bandingkan dengan apa yang di lakukan orang tuaku yang kini liburan. Cie.... Selalu sehat ya Ibu, Ayah... aku menunggumu di sini dengan penuh kesadaran TT.TT

Rasanya begitu aneh bin galau. Rumah yang biasanya ramai ini jadi mendadak sunyi dan terasa luas yang menyiksa. Keheningan yang tak nyaman, padahal biasanya yang paling protes kalau berisik. Namanya manusia itu nggak ada puasnya ya. ckckckck. Biasanya bangun seperlunya, kini harus bagun subuh-subuh untuk menggantikan pekerjaan Ibuku panen Jamur. Mendadak juga merasakan suasana kebun pagi-pagi sendirian, dingin, dan banyak bunyi binatang kebon yang tak sering bikin hati dag dig dug. Itu belum cukup, nyamuk-nyamuk sialan itu pantas di kasih tamparan super HOT. Ya ampun, jika suruh memilih, aku mau minta maaf pada kedua orang tuaku. Ternyata begini rasanya ngurusin rumah. Apa lagi orang-orangnya.

Kakak dan Adik itu wajar ya kalau kadang nggak akur. Nah, aku juga mengalami masa yang wajar dalam hubungan persaudaraan. Kalau deket rasanya pengennya nyari gara-gara aja tapi kalau nggak ada alias pergi kemana mesti rasanya kangen (kangen nyari gara-gara maksudnya). Nah ini juga itu, kebetulan eh ni sodaraku satu-satunya nyari gara-gara ma aku yang tempramental, bikin moodku langsung meluncur dari deretan ular tangga. Huft... tapi yang bikin aku heran dan bertanya-tanya. Aku aja kadang-kadang enek ngadepin sodaraku, terus bagaimana dengan Ayah dan Ibu ya yang harus ngadepin sodaraku dan juga tentunya aku berserta "gara-gara" di antaranya. Yang aku lakukan hanya geleng-geleng kepala sambil meminta ampun. Sekaligus salut. Takut kwalat aja besok. Hahahaha

Ayah Ibu, kaliang memang pahlawan di hidupku kok pokoknya. Jika melihat sekeliling aku jadi mendadak wise gini sih. Hahaha... Pelajaran yang aku dapatkan:
1. Kesabaran itu nggak datang dengan instan layaknya mie rebus
2. Sadar itu muncul karena kemauan, bukan hanya karena keadaan. Kalau kita nggak mau merendahkan ego untuk menyadari diri sendiri, kita nggak bakal sadar sebesar dan sekeras apapun keadaan yang kita hadapi.
3. Sebaiknya kita berusaha selagi semua orang masih mendukung setiap langkah perubahan kita, jangan buat orang-orang yang mempercayaimu meninggalkanmu satu-satu.
4. Kalau orang lain mau berusaha untuk kita, kita harusnya lebih berusaha dari pada mereka, bukannya kita lantas mengandalkan sepenuhny pada mereka. Itu manja namanya.

Benarkan aku jadi wise?
Aku kangen.... 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar