Kamis, 12 Desember 2013

Pantai Ngetun Wonosari, Semacam Tempat untuk Menyepi

Pantai Ngetun
Setelah luama sekali saking lamanya, lama tidak tour, lama tidak jalan-jalan, lama tidak nyasar (ups...), akhirnya aku bersama dengan teman-temanku menentukan destinasi jelajah lagi. Setelah berbagai rutinitas KKN PPL yang fuuuullllll itu kini saatnya kita bermain dan bermain. Nah tujuan kali ini adalah Pantai Ngetun.

Pantai apa itu? Dimana itu? Seperti apa pantainya? Bagaimana ke sananya?

Ennngggggg……. (Pasang muka oon). Tidak ada yang tau, tidak ada titik terang, tidak ada gambaran. Oke! Saatnya tanya mbah google yang banyak tau dan banyak akalnya.
Gunung Kidul. Itulah petunjuk pertamanya. Pantai ini ada di Gunung Kidul. Nah kita nekat aja itu penting ke Gunung Kidul dan menempuh rute Wonosari-Baron. Pikir kita paling nggak jauh-jauh dari sana. Lalu, petunjuk selanjutnya adalah Tepus. Nah kita tinggal belok kiri aja itu ke arah Tepus. Nah setelah sampai Tepus jangan sombong dulu, Tepus luas men, kita cari petunjuk lagi yaitu pantai ini sebelum sampai Pantai Siung. Usul punya usul kebetulan aku sudah pernah ke sana dan petunjuk jalan ke arah Pantai Siung pun jelas jadi nggak susah-susah amat mencapai daerah sekitar situ. Petunjuk terakhir dari simbah adalah belok ke gang tepat di SD Tepus IV. Nah, kita sudah berjalan jauh menelusuri Tepus hingga hampir sampai Pantai Siung. Tapi kami nggak melihat SDnya sebelum terlalu jauh melangkah sebelum terlalu lama tersesat akhirnya kita memutuskan untuk bertanya pada yang empunya Tepus. Tanya pada masyarakat sekitar (hahahaha) dan taraaa! Kita ke babalasan, “sudah kelewat jauh mbak mas, mbaknya balik aja, nanti ada SD yang depannya jalan cor-coran semen dan ada kerakalnya,  itu jalan menuju Ngetun”. Alamak, dulu aku buat nama blog ini dengan komunitas anak nyasar bukan berarti nyasar terus gini kan? 

Dengan petunjuk terkini itu akhirnya kami memutar arah kembali dan menemukan jalan yang dimaksud. Walah, ternyata SD IV Tepus itu keliatan dari pinggir jalan hanya saja papan namanya yang tidak terlihat sehingga kita nggak tau itu SD Tepus yang keberapa. Nah mulailah kami menelusuri jalan bersemen itu dengan perasaan sedikit lega karena sudah menemukan jalan yang menuju arah selatan. Pikir kami tujuan sudah di depan mata, ternyata….hanya mimpi belaka!

Tips: Jagan malu bertanya, malu bertanya bukan lagi sesatnya di jalan tapi bisa di hutan atau malah kuburan. Hahaha, bercanda, ini karena kami nyasar di kuburan teman, ada makam keramat di sana. Asal-asulnya tanya mbah google ya?  Banyak infonya kok, hehehe…. Nah lanjut, kami bertanya lebih dari dua orang masyarakat sebelum akhirnya kami menemukan jalan yang benar. Jalan ini adalah jalan pedesaan yang sedikit membingungkan memang. Kami terus saja berjalan-berjalan dan tiba-tiba syok melihat jalannya. Jalannya hanya tinggal tatakan batuan kapur asli gunung kidul dengan tanah tipis yang belum di aspal atau di semen dan jalanan ini panjangnya lumayan membuat putus asa. Kami juga sempat putus asa dan bertanya lagi, tapi memang itulah jalannya. Di beberapa turunan ekstrim aku juga sempat memilih turun dan berjalan kaki. 
Pantai Ngetun yang masih Asri

Setelah perjalanan yang jauuuh, melelahkan dan ekstrim itu akhirnya kami sampai di tujuan yaitu Pantai Ngetun. Benar-benar harga yang mahal. Tapi kalian tahu? Pantai ini benar-benar sepi. Saat kami sampai sana pun hanya ada beberapa pengunjung yang datang dan selepas siang pantai benar-benar sepi meninggalkan kami sendiri dan beberapa penduduk asli.

Pantai Ngetun, secara administratif berada di Dusun Sureng, Desa Puwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Banyak orang yang belum tahu keberadaannya karena pantai ini masih belum terdaftar sebagai destinasi wisata secara resmi. Akses ke pantai ini juga cenderung sulit dengan pembangunan berbagai fasilitas yang masih belum dilakukan. Dengan keasliannya ini maka pantai ini masih di katakan sebagai pantai yang perawan.  Oleh karena itu jangan tanyakan bagaimana kondisinya. Uaaahhhh benar-benar alami. Pasir putih, pepohonan yang rindang, biota laut yang masih hidup alami, kesunyian hingga hanya suara ombak yang kita dengar dari sana.

Sampai di sana kami tidak langsung berlari ke arah pantai melainkan memilih duduk di bawah pohon pinggir pantai untuk menenangkan nafas setelah perjalanan jauh. Kami menikmati pemandangan terlebih dahulu sebelum berkenalan dengan pasir dan ombak lautan, lagi pula panas matahari masih sangat terik untuk bisa membakar kulit. Sambil bersantai kami mengamati sudut pantai, mengumpulkan niat untuk berfoto-foto.

Pantai dengan pasir putihnya
Dan tujuan dari segala tujuan bermain-main tidak afdol namanya kalau tidak foto-foto. Kami pun jungkir balik, loncat, lari-lari untuk mencari posisi yang pas dan bagus untuk mengabadikan kenangan. Foto, foto, dan berfoto. Hal yang paling tidak bisa kami lupakan adalah kejadian mengerikan yang menimpa seorang anak penduduk asli di sana. Dia yang bersama dengan teman-teman sedang bermain air laut tiba-tiba menangis. Sontak saja kami melihatnya dan mendapati kepalanya berdarah-darah karena terpentok karang. Beberapa dari kami menghampirinya dan membawanya ke tepian. Aku seolah ngeliat anaknya hellboy. Tubuhnya yang tadi hitam terbakar matahari kini berubah warna menjadi merah darah. Benar-benar membuatku ngeri melihatnya. Apa kabarmu nak sekarang?

Oke kembali, setelah kami menenangkan diri, kami berteduh di pinggir pantai sambil memandang jauh ke lautan. Menikmati pemandangan lagi, kemudian berfoto lagi sebelum kami memutuskan untuk pulang. Membayangkan jalan pulang yang panjang itu membuat kami menghela nafas dan enggan untuk segera pulang. Sepertinya kalau punya kantung doraemon, aku pengen ngeluarin pintu kemana aja biar tidak berurusan dengan jalan itu. Hahaha.....

But, home is really the nicest place in this world, so lets go home!  

Foto-foto
Foto-foto lagi

Foto-foto lagi (lagi)

Foto lagi (lagi(lagi))

Kenangan lagi, waktu yang kami lewatkan, kebersamaan, tempat-tempat fantastis di dunia ini, melihat lebih banyak ke dunia, mencoba memahami makna dari setiap perjalanan hidup... ah rasanya tidak akan cukup jika kita sudah menutup album kenangan itu. Selalu merasa kurang, merasa ada yang perlu di tambah dan merasa harus lebih banyak belajar lagi, lagi dan lagi. Ya, seperti itulah sebuah perjalanan, banyak yang kita tinggalkan dan sesali tapi di sisi lain kita menerima banyak pelajaran, menerima banyak pengalaman, dan mendapat berbagai cara untuk selalu ikhlas...
Anyeong... Saranghaeyo....^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar