Rabu, 22 Januari 2014

Air Terjun Jumog: Pesona Gunung Lawu, Gunung Seribu Curuk


Perjalanan dadakan ke Magetan belum berakhir. Setelah kami dari Telaga Sarangan, kami kembali ke Karanganyar, perjalanan kemudian dilanjutkan ke Solo, di persimpangan antara arah Solo dan Ngargoyoso kami mengambil arah kanan (kalau dari arah Solo ke arah kiri) menuju ke arah Ngargoyoso. Awalnya kami ingin pergi ke perkebunan teh, namun setiba di pintu gerbang pariwisata desa, kami memilih untuk ke Air Terjun Jumog.
Air Terjun Jumog berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Untuk mengakses air terjun ini dari pintu gerbang pariwisata, kami mengambil jalur kecil ke kanan. Setelah melewati desa penduduk yang masih kental dengan nuansa pegunungan, kami sampai ke halaman parkir wisata. Jangan khawatir kesasar, petunjuk jalan ada di sepanjang jalan dan warga juga tidak segan-segan menjawab jika anda bertanya disertai dengan bonus senyuman. Hehehe...

Anak Tangga yang dimaksud :-)
Berbicara tentang arah membuatku sedikit kelelahan (fuih, maklum buta arah, tapi sepertinya benar kok...), oke setelah parkir, kita berjalan sedikit melewati warung penduduk yang menjajakan jualannya sebelum sampai di pintu masuk. Tiket masuk wisata Air Terjun Jumog cukup murah hanya seharga Rp 3.000 perorang. Senyum cerah kami sedikit pudar saat akan berjalan ke arah tangga menuju air terjun. Ada banner bertuliskan “selamat anda akan berjalan menuruni 116 anak tangga” wow, ini niat tulisannya mau memberikan semangat atau membuat putus asa? Setelah menghela nafas kami akhirnya memulai tangga pertama kami. Resya dengan semangatnya menghitung kembali tangga, memastikan kebenarannya, dan Ayahku tercinta sudah duluan beberapa meter di depan, tidak sabar.

Kanan kiri tangga turun didominasi oleh pakis gunung, sore menambah sejuk suasana sekitar. Sudah pukul empat sore saat itu, pengunjung hanya tinggal satu dua orang. 116 tangga turun, benar, kata Resya karena aku tidak menghitung dan sibuk mengimbangi langkah ibuku. Di bawah sungai mengalir dengan airnya yang jernih dan dingin. Tempat wisata ini benar-benar bersih dan dikelola baik oleh masyarakat. Fasilitas juga cukup lengkap, mulai dari toilet, tempat untuk duduk dan beristirahat, kolam renang, area bermain anak, rumah makan, pusat informasi, dan tempat ibadah. Suasana yang benar-benar nyaman, damai, asri dan menyenangkan. Kami berjalan menelusuri sungai menuju air terjun yang ada di ujung tempat wisata ini.

Penampakan di sekitar Air Terjun

Melihat air terjun kami langsung saja memasang badan dan berpose, menikmati embun yang jatuh sambil bersiap-siap diabadikan dengan kamera. Suara air terjun di belakang kami seolah menjadi OST alam yang indah. Kami berlima melanjutkan foto sementara Ayah dan Ibu pergi berkencan sendiri, hehehe...

Kami berkeliling, berfoto, bercanda dan setelah malam mulai memanggil kami untuk pulang. Di tangga untuk naik kambali ada tulisan 116, angka keramat itu. Kali ini tulisannya “anda akan menaiki 116 anak tanga, jangan malas kembali lagi ya!” penuh dengan pesan kayaknya deh. Selangkah demi selangkah kami menaiki anak tangga itu, mengukir kenangan, dan TARRA! Sampai di atas kami menemukan tulisan lagi sekarang bukan 116 tapi 232, “Selamat anda telah menuruni dan menaiki 232 anak tangga, semoga anda tambah sehat dan sukses” melihat tulisan sukses itu kami berlima buru-buru berdoa agar tugas akhir kami juga SUKSES! Amin. Hehehe...

Yah perjalanan singkat ke Air Terjun Jumog berakhir dengan ngos-ngosan... hehehe.... kami memutuskan untuk pulang agar sampai di Jogja tidak larut malam. Hari yang panjang, tapi juga hari yang sangat singat untuk perjalanan hidup kami. 

Semangat Jelajah Alam! 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar