Rabu, 22 Agustus 2012

Ayahku (Bukan) Pembohong


     Ah, resensi kali ini kembali masih mengangkat karya Tere Liye. Mungkin aku memang penggemar karyanya. Kini kembali Tere Liye membawa suasana kanak-kanak dalam fiksi kehidupan. Cerita tentang Ayah sekaligus Kakek yang mendidik anak-anaknya melalui dongeng-dongeng kesederhanaan dan juga penuh pelajaran.
     Dam, tokoh dalam cerita ini adalah sorang anak yang dibesarkan dengan kesederhanaan seorang Ayah dan Ibu. Ia tumbuh besar diiringi oleh dongeng-dongeng dari Ayahnya dan  menjadi seorang anak yang tau bagaimana memahami hidup ini. Namun sampai suatu ketika ia mulai tidak mempercayai dongeng Ayahnya. Kenyataan yang keluarga ini hadapi membuat Dam menganggap Ayahnya pembual besar yang menyembunyikan ketakutannya dalam dongeng yang dikarangnya.

       Sampai Dam berkeluarga dan mempunyai dua anak, Zas dan Qon, ia tetap saja membenci cerita ayahnya. Ia tidak memperbolehkan ayahnya bercerita apapun untuk Zas dan Qon. Sungguh "kebencian itu  membuatku tidak adil, kebencian itu menutup mata atas banyak hal" (hal 282). Sampai benar-benar kebencian itu membuat Dam melupakan segalanya meninggalkan berbagai penyesalan yang tak tau kapan akan ia rasakan.
     Dongeng-dongeng dalam buku ini merupakan kisah sederhana yang begitu mendidik. Seperti kisah Raja Tidur yang membawa pesan bahwa bangsa yang korup bukan karena pandidikan formal anak-naknya yang rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat (hal 185). Ini hanya cuplikan dari kisah -kisah yang diceritakan Ayah. Sungguh keunggulan dari bukunya kali ini adalah pelajaran-pelajaran yang mendidik kita untuk lebih memahami kehidupan ini dengan sederhana. Namun, bagaimana kebenarannya? 
     Cerita mengaharukan ini di kemas dalam 304 halaman. Diterbitkan oleh Gramedia tahun 2011 (punya saya). Nah silahkan membaca, buku ini baik untuk semua umur, terutama kalian yang benar-benar tak mengerti kenapa orang tua terkadang begitu kolot terhadap kalian. Seperti yang tertera dalam cover belakang buku ini. "Kapan terakhir kali kita memeluk Ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya? Mulailah membaca buku ini dengan hati lapang....." 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar