Senin, 13 Agustus 2012

POLA PENDUDUK SAUDI ARABIA


Perhatian:
Tulisan ini hanya sebatas share tugas mata kuliah Geografi Penduduk. Semua data yang diperoleh merupakan hasil dari statistik yang sumbernya tertera di bawah keterangan gambar. Adapun analisis yang ada merupakan hasil karya sendiri dengan acuan sumber yang saya dapatkan. Jika menggunakan data ini untuk kepentingan anda silahkan cek kembali sebelum Copy Paste. Kesalahan yang saya buat adalah kekurangan saya, dan mohon berikan pendapat, kritik, atau komentar bila terjadi kesalahan dalam tulisan ini. Terimakasih.

POLA PENDUDUK SAUDI ARABIA
a. Pola Fertilitas Penduduk Saudi Arabia
Sumber : World Fertility Pattrens 2009, United Nation New York 
www.unpopulation.org
     Data di atas merupakan pola kelairan bayi berasarkan usia produktif wanita. Kelahiran dihitung dari setiap 1.000 wanita yang masih berusia produktif sehingga menghasilkan data seperti yang tertera pada grafik. Dari grafik tersebut terdapat terlihat pola kelahiran berdasarkan umur wanita usia produktif tahun 1980 (biru) dan juga tahun 2006 (merah). Tahun 1986, menujukkan angka kelahiran yang tinggi mulai dari 55 bayi pada usia 15-19 kemudian naik hingga mencapai angkai 236 bayi. Titik puncaknya mencapai angka kelairan sebesar 328 bayi pada 1.000 wanita di usia antara 25-29 tahun, kemudian beransur ansur menurun hingga pada usia antara 45-49 tahun kelahiran hanya 37 bayi. Jumlah penduduk tahun 1985 sebanyak 13.220.000 jiwa, pada tahun 1986 tersebut rata-rata kelahiran bayi  setiap wanita mencapai angka 6.5
     Grafik selanjutnya adalah grafik pola kelahiran penduduk tahun 2006 (Merah). Dari grafik tersebut dapat dilihat pola kelahiran masih cenderung memuncak pada usia 25-29 tahun yaitu dengan kelairan 267 bayi namun secara keseluruhan jumlah kelahiran bayi jauh berkurang jumlahnya dari pada tahun 1986. Pada tahun tersebut, rata-rata kelahiran bayi juga menurun hingga 50% sehigga rata-ratanya menjadi  3.3 bayi setiap wanita.
b. Pola Mortalitas Penduduk
Sumber : World Mortality 2009, United Nation New York
www.unpopulation.org
     Dari data World Mortality 2009 diperoleh data kematian penduduk Saudi Arabia pada setiap 1.000. Data tersebut dirata-rata pada kurun waktu antara tahun 2005-2010. Grafik di atas menujukkan bahwa jumlah kematian penduduk semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia penduduk. Kemungkinan kematiannya akan semakin tinggi. Data di atas menunjukkan pada usia 0-15 tahun penduduk yang meninggal mencapai 25 jiwa dan semakin meningkat sehingga pada usia mencapai 60 tahun mencapai 142 kematian. Pada kurun waktu tersebut rata-rata usia harapan hidup penduduk sekitar 73 tahun.
Sumber : World Mortality 2009, United Nation New York
www.unpopulation.org 
  Apabila dilihat dari penyebab kematiannya, pola kematian penduduk Saudi Arabia dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Kelompok I meliputi kematian karena Communicable(penyakit menular), Perinatal (kematian bayi usia kehamilan 28 minggu sampai 7 hari setelah lahir), Maternal (kematian ibu saat kehamilan), Nutitional Conditions. Kemudian kelompok II meliputi kematian karena Non-Communiacable Diseases (penyakit tidak menular/kronis), dan terakhir adalah Kelompok III yaitu karena Injuries (Luka). Dari pola tersebut, terlihat bahwa kematian sebab kematian terbesar adalah karena Non-Communiacable Diseases yang mencapai angka 67% dari total angka kematian seluruhnya. 
    Dari data World Mortality 2009  penyebab kematian lainnya karena HIV AIDS di Saudi Arabia diperoleh data 0%. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan penyakit ini sangatlah kecil jumlahnya di antara penduduk Saudi Arabia.

c. Pola Pertumbuhan Penduduk
Sumber: Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations Secretariat,  World Population Prospects: The 2010 Revision, http://esa.un.org/unpd/wpp/index.htm
Grafik diatas menujukkan kecenderungan persentase pertumbuhan penduduk Saudi Arabia. Secara garis besar, pola pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun menurun.  Walau pada tahun 2000-2005 angkanya kembali naik, namun secara keseluruhan tren-nya menurun. Puncak pertumbuhan penduduk pada taun 1980-1985. Dalam rentang tahun berikutnya petumbuhannya menurun hingga 1,61 pada tahun 1995-2000 sebelum mengalami kenaikan kembali. Pertumbuhan penduduk negara tersebut masih tergolong tinggi yaitu lebih dari 1 bahkan mencapai angka 5.99%. 
Sumber: Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations Secretariat,  World Population Prospects: The 2010 Revision, http://esa.un.org/unpd/wpp/index.htm
     Dari grafik jumlah penduduk di atas, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di Saudi arabia semakin lama semakin bertambah. Hal ini melihat besarnya persentase pertumbuhan penduduk yang tinggi. Dapat dilihat antara tahun 1995-2000, pertambahan penduduknya sedikit dan meningkat drastis pada tahun 200-2005. Hal ini sinkron dengan persentase pertumbuhan penduduk yang dibahas pada grafik sebelumya.

ANALISIS GEOGRAFI, SOSIAL DAN EKONOMI TERHADAP POLA KEPENDUDUKAN
a. Geografi
    Melihat dari segi Geografi negara Saudi Arabia, negara tersebut merupakan daerah yang  kering dengan gurun dan juga temperatur udara yang sangat ekstrim. Hanya beberapa wilayah saja yang dihuni oleh sebagian besar penduduk karena luas wilayah yang mencapai 2,149,690 km2  didominasi oleh gurun pasir yang luas. Kondisi geografi seperti ini tentunya akan mempengaruhi penduduk yang ada di Saudi Arabia. Temperatur udara yang sangat ekstrim akan mempengaruhi aktifitas, persebaran dan mobilitas penduduk.   
     Kondisi geografis berpengaruh terhadap pola kematian penduduk. Dijelaskan sebelumnya bahwa persentase kematian penduduk paling tinggi disebabkan oleh penyakit yang tidak menular serta kerentanan usia yang menua. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat negara ini memiliki suhu yang ekstrim sehingga daya tahan manusia sangatlah terpengaruhi. Selain itu berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan gangguna pernafasan sangat rentan di negara yang bertemperatur tinggi dan didominasi oleh keberadaan gurun.
    Selain itu, tak dapat dipungkiri lagi keberadaan air sangat mempengaruhi penduduk. Banyak sedikitnya pasokan air menjadi pertimbangan jumlah anggota keluarga yang ada mengingat air adalah barang vital bagi kehidupan manusia. Saudi Arabia merupakan daerah yang kering dengan sumber air yang terbatas. Selain itu pengembangan teknologi untuk memperbesar pasokan air juga dilakukan. Hal ini sebagai upaya pemenuhan air bagi negara tersebut. Secara tidak langsung kesadaran akan muncul dan mempengaruhi pola kelahiran yang menurun serta pertumbuhan penduduk yang persentasenya berkurang. 
     Kondisi lingkungan yang ekstrim ini menyebabkan masyarakat Saudi Arabia  harus benar-benar memperhatikan berbagai aspek guna melangsungkan kehidupan mereka. Terutama kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dan juga jumlah sumber daya yang ada.
b. Sosial
    Dari segi Sosial, mayoritas penduduk di Saudi Arabia menganut agama Islam. Dari sana dapat dilihat bahwa agama memiliki peran yang sangat penting dalam menjalin hubungan antar masyarakat terutama antar lawan jenis. Masyarakat masih berpegang teguh pada aturan-aturan yang ada di kitap suci. Semua tata cara kehidupan telah diatur sehingga dalam prakteknya tentu akan sangat berpengaruh pada kondisi kependudukan yang ada. Dari grafik pola fertilitas tersebut menujukkan bahwa angka tertinggi kelahiran bayi pada usia antara 25-29 tahun. Wanita-wanita pada kisaran umur tersebut memang memiliki usia yang paling produktif.
    Kondisi sosial yang melarang wanita untuk berhubungan secara bebas dengan lelaki membuat wanita di negara tersebut jarang menghabiskan waktu diluar dan menikah dengan cara yang telah ditetapkan dalam kitab suci Al Quran. Mungkin dari sinilah mengapa pada tahun 2006 polanya bergeser menjadi sangat ekstrim perbedaannya dari tahun 1986. Hal ini selain karena pedoman kitab juga karena adanya penundaan usia kawin dan kesadaran wanita untuk lebih memperhatikan pendidikan dan berkontribusi dalam pekerjaan meningkat sehingga pergesarannya dapat terlihat dengan lebih jelas seiring dengan pengaruh global. 
     Selain itu, pola kelahiran juga dipengauhi oleh rata-rata kelahiran di Saudi Arabia termasuk tinggi yaitu 6.5 tahun 1986. Hal ini karena adanya larangan wanita untuk menggunakan alat kontrasepsi sehingga kelahiran tinggi pada waktu itu. Pada tahun 2006 sendiri dapat dilihat pola ini menurun, sesudah titik puncak yaitu antara 25-29 tahun kelahiran bayi walau masih tinggi namun menujukkan angka penurunan. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya kesadaran untuk mempertimbangkan jumlah anak selain itu seiring dengan perkembangan waktu ditemukan cara yang lebih baik dari alat kontraspsi untuk mengurangi tingkat kelahiran bayi.  
    Melihat pola kematian penduduk yang ada, kondisi sosial pengaruh terhadap kematian penduduk. Bila dilihat dari grafik pola kematian berdasarkan penyebabnya. Penyebab tertinggi karena faktor Non-Communiacable Diseases. Hal ini menujukkan bahwa kematian terbesar di sebabkan oleh penyakit tidak menular atau bisa juga penyakit kronis yang di miliki setiap penduduk. Pengaruh layanan kesehatan terhadap kasus ini sangatlah penting mengingat besarnya persentase yang mencapai 67% persen dari jumlah kematian penduduk. Hal ini juga berjalan sering dengan bertambahnya usia. Dari grafik sebelumnya dapat dilihat bahwa kemungkinan kematian penduduk semakin meningkat menjelang usia tua. Dapat di simpulkan bahwa usia tua merupakan usia yang sangat rawan terhadap penyakit, khususnya penyakit bawaan atau pribadi yang kemungkinan kematiannya tinggi.
    Selain dari penyakit tidak menular, terdapat juga sebab kematian lain yaitu maternal. Kondisi ini merupakan kematian ibu hamil, melahrkan atau 90 hari setelah kelahiran. Hal ini disebabkan faktor usia ibu hamil yang kurang dari 20 tahun atau lebihh dari 35 tahun yang resikonya 3x lebih besar. Kemudian ibu yang melakukan persalinan lebih dari 6x dan kondisi yang tidak mendukung lainnya seperti sakit, atau layanan kesehatan. Hal ini sangatlah mungkin mengingat penduduk memiliki larangan akan penggunaan alat kontrasepsi sehingga wanita lebih rentan terhadap kematian. Selain itu masih ada penyebab lain misalnya kecelakaan atau konflik karena dapat diketahui bahwa wilayah timur tengah merupakan daerah yang rawan akan konflik. Untuk kematian karena HIV/AIDS di negara ini masih 0%, hal ini kembali karena pengaruh agama yang sangat ketat terhadap hubungan sosial lawan jenis.
    Dari segi pola pertumbuhan penduduk sendiri secara umum persentase pertumbuhan penduduk Saudi Arabia menurun jumlahnya walau terdapat kenaikan pada tahun tertentu. Meskipun demikian jumlah penduduknya semakin bertambah, namun persentase pertumbuhannya menurun dari tahun ketahun. Kondisi sosial tentunya sangat mempengaruhi pola pertumbuhan tersebut, hal ini karena masyarakat mulai terbuka dengan berbaga ilmu pengetahuan dan teknologi yang melanda dunia global. Berbagai perbaikan kualitas manusia, pendidikan, kesehatan dll membuat masyarakat semakin sadar akan petingnya masalah kependudukan yang akhir-akhir ini menjadi kekawatiran global. Dengan pendidikan minimal 14 tahun maka kesadaran akan masalah masalah kependidikan tersebut semakin lama menjadi pertimbangan bersama.
c. Ekonomi
    Kondisi ekonomi masyarakat Saudi Arabia dibagi menjadi tiga sektor utama yaitu agrikultur 2%, industri 69.1%, dan jasa 28.9% (CIA, The World Factbook 2011). Industri yang paling besar adalah di sektor Minyak bumi dan Petrokimia. GDP negara pun mencapai angka $691.5 billion (2011).  Dalam hal jasa, saudi arabia mendapat keuntungan dalam hal haji. Negara ini merupakan negara yang menjadi negara tujuan umat muslim di deluruh dunia sehingga muncul berbagai kegiatan ekonomi yang menyertainya.
    Dari berbagai fakta di atas tidak dapat dipungkiri bahwa negara Saudi Arabia memiliki penghasilan yang tinggi. Berbagai kegiatan ini tentunya mendorong masyarakat untuk melakukan berbagai perbaikan di bidang ekonomi atau bidang lainnya dalam upanyanya meningkatkan kesejahteraan. Berbagai upaya ini tentunya memberikan dampak pada kondisi kependudukan yang ada. Masyarakat mulai menyadari akan pentingnya berbagai pemenuhan layanan dan peningkatan kesejahteraan. Dalam upaya tersebut, maka kegiatan di bidang ekonomi akan mempengarui pola kelahiran yang  semakin lama semakin menurun diimbangi dengan penundaan usia perkawinan. 
    Namun selain peningkatan kualitas kesehatan, industrialisasi juga memberikan dampak negatif yaitu rentanya kondisi penduduk akibat polutan. Dari grafik pola kematian penduduk, kematian usia dibawah 15 tahun sedikit, hal ini dipengaruhi oleh peningkatan layanan kesehatan yang semakin baik dan pemenuhan gizi yang cukup, namun di sisi lain semakin meningkat. Hal ini karena orang-orang dewasa masuk ke bidang perindustrian dan menadaptkan efek jangka panjang yang tanda-tandanya tidak disadari sehingga muncul penyakit yang menyebabkan kematian karena faktor Non-Communiacable Diseases.
    Pada pola pertumbuhan penduduk, negara-negara yang memiliki GDP tinggi biasanya memiliki persentase kelahiran yang kecil. Namun berbeda dengan Saudi Arabia. Walau pendapatannya termasuk tinggi namun negara ini tidak dapat dikategorikan menjadi negara maju karena aspek lainnya yang dipertimbangkan.  

POLA PENDUDUK KAITANNYA DENGAN TEORI KEPENDUDUKAN
    Kondisi kependudukan seluruh dunia saat ini mulai mendapat sorotan. Hal ini mengingat besarnya jumlah penduduk total yang ada mulai mengancam kelangsungan hidup umat manusia. dari berbagai fakta yang ada, kini teori-teori yang dulu pernah dicetuskan oleh Malthus kembali diperbincangkan.
     Pola-pola kependudukan pun semakin lama mulai bergeser menyadari betapa pentingnya aspek kependudukan bagi suatu negara. Pola Kelahiran di Saudi Arabia sendiri mengalami perubahan yang signifikan antara tahun 1986 dan 2006. Bila dianalaisis berdasarkan teori-teori kependudukan yang ada, Aliran Marxist adalah aliran yang mungkin diterapkan di negara tersebut mengingat larangan akan penggunaan alat kontrasepsi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hak manusia untuk hidup. Selain itu, negara tersebut merupakan negara yang berbentuk kerajaan yang kekuasaannya mutlak sehingga memungkinkan adanya tekanan terhadap kesempatan kerja dan kemelaratan akibat struktur pemerintahannya.
    Namun, bila dilihat dari pola persentase pertambahan penduduknya, Aliran Marxist sepertinya mulai tidak berlaku. Rata-rata jumlah kelahiran bayi setiap wanita semakin lama semakin menurun. Meskipun jumlah penduduknya semakin bertambah namun persentase mengalami peurunan. Hal ini seolah-olah teori milik Maltus maupun aliran Neo-Malthusians mulai dipertimbangkan. Pembatasan jumlah penduduk mulai dilakukan dengan cara-cara yang lebih dianjurkan mengingat larangan-larangan yang ada. 
    Hubungan antara masalah kependudukan dengan variable lingkungan menjadi sorotan. Terlebih lagi mengingat negara Saudi Arabia memiliki kondisi geografis yang sangat ekstrim, dengan persebaran yang tidak merata, sumber daya alam dibidang pertanian yang hanya 2% dari seluruh mata pencahariaan yang ada, dan juga pasokan air yang cukup terbatas. Hal ini tentunya menjadi sorotan pemerintahan agar ketersedian sumber daya dan bahan pangan mampu mencukupi jumlah penduduk yang ada. Daya dukung lingkungan menjadi pertimbangan lebih lanjut agar bencana dapat dihindari di suatu negara.
    Akan tetapi, teori Marxist maupun Malthus tidak dapat sepenuhnya mewakili pola kependudukan yang ada di Saudi Arabia seluruhnya.  Beberapa fakta impor berbagai sumber daya seperti Kayu, Teh, dan lain sebagainya menujukkan adanya usaha pemecahan masalah kekurangan dalam hal sumberdaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa minus dari suatu negara dapat diatasi dari surplus negara lain dengan hubungan bilateral yang baik. Selain itu melihat pola pertumbuhan penduduk yang menurun memungkinkan karena adanya pengaruh produktifitas dari setiap individu yang otomatis menurunkan kecenderungan berkeluarga besar sehingga fertilitas akan rendah. Hal ini semakin ditunjukkan dengan adanya pergeseran pola kelahiran dan juga pola kematian penduduk di bawah usia 15 tahun yang lebih sedikit daripada usia yang menginjak angka 60 tahun. Hal ini menujukkan bahwa teori milik John Stuart Mill yang masih mendukung Malthus juga berlaku yaitu teori Fisiologi dan Sosial Ekonomi. 
    Dari pola-pola kependudukan yang cenderung menurun tersebut maka dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk menjadi sorotan bagi negara. Walau tidak sepenuhnya menganut teori Malthusians, namun dasar dari teori ini menjadi pertimbangan melihat adanya berbagai perubahan dan kesadaran manusia akan berbagai masalah kependudukan yang mungkin saja terjadi berkaitan dengan jumlah penduduk. Selain itu, meningkatnya kesadaran akan pendidikan di negara yang tinggi juga memberikan dampak secara tidak langsung terhadap kependudukan.

Sumber acuan: 

  1. Sumber : World Mortality 2009, United Nation New York , www.unpopulation.org
  2. Sumber : World Mortality 2009, United Nation New York, www.unpopulation.org
  3. Sumber: Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations Secretariat,  World Population Prospects: The 2010 Revision, http://esa.un.org/unpd/wpp/index.htm
  4. Kematian Maternal, http://kawanilmu.blogspot.com/2009/08/maternal-mortality.html
  5. Negara Arab Saudi, http://www.geografi.info/benua/asia/negara-arab-saudi.htm
  6. The World Factbook, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sa.html
  7. Teori-Teori Kependudukan, Diktat Kuliah Geografi Penduduk 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar