Sabtu, 09 November 2013

Jejak KKN PPL Part 5 : Merapi Mont. We Fall In You

Pasukan 13 Siap Mendaki 

Lokasi KKNPPL yang ada di kaki Gunung Merapi membuat kami setiap harinya menatap gunung yang berdiri gagah di depan basecamp. Terpesona, bersyukur, dan kagum melihat keindahannya walau rasa takut mengingat erupsi tahun 2010 yang mempora-porandakan daerah sekitar masih ada di sana. Di tambah lagi kekhawatiran itu bertambah saat suatu pagi di bulan puasa, kami sempat merasakan kembali hujan abu yang sempat membuat kegiatan belajar mengajar sedikit kurang efektif.

Tapi, jauh-jauh hari kami juga membulatkan tekad untuk mengenal lebih dekat Gunung Merapi dan akhirnya rencana itu terbentuk. Mendaki gunung setelah kegiatan KKNPPL ini usai dan di sinilah kami sekarang. Tanggal 27 September 2013.

Setelah banyak berdebat, banyak diam, banyak masalah, banyak hambatan hati maupun pikiran, banyak pertimbangan, dan banyak berkomunikasi akhirnya aku memantapkan diri untuk pergi ke sana. Mendaki gunung itu. Yah, Tapi pendakian ini memang "jer basuki mawa bea" (semua keinginan itu butuh biaya) dan biaya pendakianku benar-benar mahal. Kamera digitalku yang baru satu tahun itu kandas di Jalan Magelang, perbatasan DIY dengan Jateng. Benar-benar nasip.

Tanggal 27 September, hari Jumat. Kami berencana kumpul jam 15.30. Setelah menjadi orang kedua yang sampai karena aku nebeng. Akhirnya kami menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Sial ini rencana kumpul jam setengah empat tapi baru berangkat jam 17.30. WOW sekali karena banyak personil yang harus ditunggu dan dari berbagai alasan dan juga rujukan yang tidak ikut pun menjadi ikut. 13 orang berkumpul untuk berangkat. Aku, Ragil, Yunanta, Arif, Vian, Eko, Zikri, Kapindo dan Doni dari TIM KKN sementara 3 orang dari Pend. Kimia dan 1 orang dari Pend. Sejarah ikut bergabung bersama.

Perjalanan menuju Selo memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Itu pun melalui berbagai hambatan dari mulai jalanan yang penuh dengan lubang dan kendaraaan pengangkut material, jalanan yang rusak, nyasar bentar, terus motor yang aku tebengin bannya bocor hingga membuatku pindah boncengan, dlsb (danlainsebagainya). Kami sampai di basecamp yang langsung disambut dengan udara dingin yang cukup membuat menggigil. 

Sebelum mendaki kami menyempatkan diri sholad berjamaah dan makan malam di basecamp. Makan malam yang harus aku abaikan atau kalau tidak aku bakalan mutah-mutah karena pencernaan yang belum sempurna. Akhinya satu piring itu aku berikan kepada salah satu temanku.

Pendakian dimulai jam 21.30 setelah kami sempat berfoto bersama sebelum memulai langkah pertama yang bakal begitu berat. Ya benar saja. Belum sampai New Selo kami sudah kesusahan bernafas. Membuat kami berhenti cukup lama di sana sebelum perjalanan kami lanjutkan. Titik terberat pendakian memang ada di awal saat tubuh mulai pemanasan membiasakan diri.  Nah, tak beberapa lama kami berjalan dari New Selo titik itu tiba. Donni yang tadinya berbaik hati memakan nasi yang sudah terlanjur dipesan itu mulai merasakan tidak enak diperutnya. Begitu juga dengan Ragil teman perempuanku satu-satunya yang mulai merasa pusing. Keduanya mulai memiliki niatan untuk turun lagi ke basecamp. Wah ini tak boleh terjadi dan gara-gara kekonyolan anak-anak serta sidiran yang sengaja membuat tidak enak akhirnya keduanya kembali membulatkan tekad untuk naik kembali. Yeah!

Selangkah demi selangkah kami membulatkan tekad untuk mendaki gunung ini. Pintu gerbang Taman Nasional Gunung Merapi terlewati, Pos I, Pos II, kami terus berjalan dengan banyak kali istirahat. Benar-benar banyak sekali istirahat mengingat jalanan yang kami tempuh sangatlah terjal. Jalur pendakian gunung merapi langsung to the point. Nggak ada bonus mendatarnya sama sekali. Semuanya hanya bertemakan naik-naik kepuncak gunung yang benar-benar terjal. Membayangkan segitiga siku-siku yang menggunakan rumus a, b, c, nah kami langsung saja mengunakan sisi c sebagai jalan. Membuat lutut lebih banyak menggunakan tenaga. Untungnnya malam itu langit cerah berbintang dan berbulan. Walau bulannya tidak penuh tapi pemandangan langit sangat cantik. Kami juga sempat menyaksikan bulan berwarna orange di pos II. Cantik dan membuat kami lebih ingin lebih banyak bersyukur.

Sampai pasar bubrah kurang lebih jam 2.30 dini hari tanggal 28 September 2013. Kami langsung saja mendirikan tenda untuk beristirahat karena pagi itu sangat dingin dan angin cukup kencang. Setelah 2 tenda berdiri dengen kuat dan satu tenda berdiri dengan susah payah karena teknis kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang menyempatkan diri membuat minuman hangat, makan, dan sebagian ketujuan semula yaitu istirahat. Nah di sini setelah aku siap untuk memejamkan mata akhirnya aku mutah-mutah juga. Hahaha...kebiasaan saat di gunung itu tidak hilang. Haduh

Narsis dari pasar bubrah 
Kami bangun sekitar jam 6.00 pagi. Langsung saja kami mulai menikmati pemandangan pagi. Di pasar bubrah kami sudah bisa melihat lautan awan. Awan-awan lembut itu berada dibawah kami. Membentuk pemandangan yang luar biasa bercampur dengan warna-warna cantik mentari pagi. Puncak-puncak Gunung Merbabu, Sindoro, dan Sumbing juga terlihat di atas awan membuat suasana bertambah elok.

Setelah menikmati pemandangan dari pasar bubrah, kami mulai memutuskan untuk melakukan pendakian ke puncak. Puncak tinggal di depan mata, akan tetapi perjalanan ke puncak lebih menguras tenaga dan juga tekad yang kami miliki. Hanya ada dua jenis jalan yang kami miliki. Pertama adalah jalur berpasir yang ketika kita melangkah 3 langkah ke atas kita akan kembali turun satu langkah ke bawah. Kedua adalah jalanan batu yang terjal dan juga labil. Harus pandai-pandai dalam memilih langkah agar tidak jatuh atau pijakan kita lepas. Nah, pendakian kali ini terbagi beberapa sesi. Sebagian besar anak-anak sudah naik duluan ke puncak. Aku, Kapindo, dan Donni berada di urutan kedua karena kami mendaki dengan kemampuan dan tekad yang pasang surut, kemudian Ragil sendiri di belakang kami, dan jauh di belakang masih ada Zikri yang sempat kelelahan karena lapar.

Puncak Impian Merapi
Ketika sudah tidak ada lagi tanah yang lebih tinggi, ketika hanya ada langit yang ada di atas kepala dan ketika hanya ada senyum yang menyambut di atas sana aku menyadari bahwa aku ada di puncak gunung ini. Gunung Merapi yang telah aku pandangi setiap hari selama hidupku, kini aku ada bersamanya. Membuatku duduk bersyukur atas kesempatan yang Dia berikan padaku, izin yang Dia ridhoi hingga aku bisa berada di sini. Sungguh pengalaman yang luar biasa aku bisa berada di sini. 

Semua terlihat dari sini. Puncak-puncak gunung lainnya, awan yang saling terjalin lembut, hijaunya tempat tinggal kami, birunya langit ini, kampung halamanku yang ada di sisi selatan, bahkan yang begitu jelas terlihat dari sini adalah kenangan tahun 2010 lalu. Kedasyatan gunung ini yang membuat kami berlari menjauhinya. Membuatku meninggalkan rumahku selama kurang lebih 40 hari, puing-puing bangunan, hutan yang hangus terbakar, bumi yang rata oleh pasir dan batu, orang-orang yang merengang nyawa, hewan yang panik menyelamatkan diri dan mati, luka, trauma, dan air mata akan bencana itu justru teringat. Membuatku semakin menunduk menyadari betapa kecilnya kami di bumi ini.

Cukup lama kami berada di puncak menikmati waktu yang singkat itu sebelum kami memutuskan untuk turun. Perjalanan turun memang tidak memerlukan tenaga ekstra tapi kehati-hatian ekstra, urusan turun ini benar-benar menyebalkan bagi yang punya pobhia ketinggian di bagian batu-batuan. Tapi cukup menyenangkan ketika sampai di pasir-pasiran. Kami seolah selancar di atas pasir dengan efek asap di belakangnya. 

Pengingat saat masih jadi calon guru (kekeke)
Kami menyempatkan diri mengisi perut dan istirahat sebentar sebelum perjalanan turun. Ah iya, sebagian dari TIM KKNPPL membawa kostum mengajar mereka yaitu almamater, celana kain hitam, hem putih tak lupa dengan dasinya. Yunanta, Arif, Vian, Eko, dan Kapindo berfoto dengan konstum kebangganan kami selama beberapa bulan terakhir itu. Berpose di atas gunung! Anak-anak konyol yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan. Perjalanan turun kami kurang lebih memakan waktu 2,5 jam. Waktu yang singkat jika mengingat waktu  pendakiannya dua kali lipat lebih lama. 

Perjalanan turun yang (sama) terjalnya
Hari yang panjang dibandingkan hari-hari lainnya tapi di sisi lain juga menjadi hari yang singkat dalam perjalanan hidup ini. Pendakian ini berakhir, hanya tinggal kenangan akan wajah-wajah yang berjuang bersama, hanya tinggal foto-foto yang membuktikan perjalanan ini, hanya tinggal ingatan yang kan mengingat semuanya, dan hanya tinggal tulisan ini yang akan mengingatkan kembali kebersamaan dan kenangan itu.

Pendakian ini tidak pernah berarti aku berhasil menaklukkan gunung, tidak pernah berarti membuatku lebih sombong. Tidak… aku tidak pernah ingin mengingat kedua hal itu. Keberhasilanku berkunjung ke sana adalah setelah aku menaklukkan rasa putus asa dalam diriku, melawan egoku, menentang rasa takutku, membuang keraguan, dan menguji kebulatan tekadku. Lalu semua itu tak mungkin pernah bisa aku lakukan jika aku sendirian tanpa teman-temanku. Yah, itu yang akan selalu aku ingat hingga perjalanan ini membuatku belajar untuk lebih terbuka, bersemangat, mau mengulurkan tangan untuk memberi dan menerima bantuan, membulatkan tekad dalam meraih impian, untuk selalu berdoa dalam setiap harapan, serta untuk lebih rendah hati dan bersyukur atas semua kuasa-Nya.      

THE END....

Bersama Puncak dari Pasar Bubrah
Ini Juga Bagian dari Indonesiaku
Masih Berjemur di Puncak Merapi
Memori ini, selamanya....
Puncak Gunung yang penuh dengan doa dan harapan baik penduduknya
Let's Back Home Guys!
And we are here, I am here, with You, carry Your might, lean on Your hope, pray for Your shake, and grateful for Your chance. Without You I was nothing, please take care of me, take care of my family, also people who love me and whom I love.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar