Selasa, 07 April 2015

Telaga Ngebel, Ponorogo Part 2

Pemandangan Telaga Ngebel yang dipenuhi dengan pepohonan khas daerah pegunungan. hijau dan cihuy!

Rencana pagi ini setelah sarapan adalah pergi ke salah satu daerah tujuan wisata Ponorogo yaitu Telaga Ngebel. Tidak jauhlah, sekitar 45 menit perjalanan di tempuhdari Kota kearah Timur Laut dengan kendaraan pribadi. 

Setelah bangun pagi, memasak sarapan, mandi, dan sarpannya akhirnya kita berdelapan melanjutkan perjalan ke Telaga Ngebel. Nah, untuk ke sana kita menanfaatkan sumber daya lokal deh jalannya. Walau sempet juga (tetep) nyasar, sih. Tapi lumayan lah soalnya jalan keluar dari pusat kota bagiku rumit ngapalinnya. Hehe. Setelah batas kota berakhir, pemandangan kanan kiri digantikan pegunungan. Sejuk dan cantik. Kami meneusuri jalan yang ada di pinggiran pegunungan dengan ketinggian rata-rata 700 mdpl. Pemandangan alam menjadi nilai bonus dalam perjalanan ini.

Pintu masuk telaga
Telaga Ngebel ada di kaki Gunung Wilis. Ia merupakan telaga yang menjadi sumber mata air bagi banyak penduduk di sekitarnya. Memasuki telaga ini, setiap pengunung di kenakan biaya Rp 4000 (2015) perkepala dan biaya parkir di seluruh telaga. alisan bayar di depan boleh parkir beberapa kali dan di mana aja.

Kalau kalian selancar di google, banyak cerita rakyat yang menarik loh yang bisa kita simak. Tentu saja kalau cerita rakyat itu berbau mistis dan juga legenda yang di percaya turun temurun. Selain itu, daya tarik budaya lain adalah upacara larung sesaji yang biasa di gelar di sini. sayangnya lagi, pas kesana waktunya tidak bertepatan dengan upacara tersebut. TT.TT

Telaga Ngebel
Kami mulai menikmati pemandangan telaga ini sambil berkendara mengelilingi telaga. sesekali kami berhenti untuk mengambil foto. Dengan berbagai pose dan sudut serta kamera. Di sesi pengambilan foto yang pertama ini sempet panik. Soalnya gara-gara aku, kap mobil yang mulus itu mbaret-mbaret. Maaf ayah...hiks...

"Bus Air" on the Way
Setelah puas berfoto kami memutuskan untuk naik ke bus air menuju tengah telaga. Dengan restribusi Rp 5000 per kepala, kami diajak mengarungi telaga. Bus air yang kami naiki sempet bikin keki juga. Pasalnya sudah cukup berumur dan nggak tau tingkat savetynya. Aku sempat ingin membatalkan diri naik ini karena Oppa sempat ragu-ragu untuk naik. Goyangan hebatnya membuatnya pusing. Setalah di paksa duduk dan bus air berjalan akhirnya parnonya ilang juga. Baru kali ini liat mukamu gitu aku, Oppa. Lucu deh. Tak ada hal lain di bus air yang kami lakukan kecuali berfoto, berfoto, dan menikmati pemandangan. Udara sejuk dengan angin sepoi-sepoi membuat perjalanan mengelilingi telaga ini terasa sebentar, tau-tau kami sudah di ajak lagi menepi dan berhenti.

Tak lama setelah naik bus air, kami segera memutuskan untuk pulang karena sudah siang dan cuaca mulai mendung. Kami tidak mau mengambil resiko jika hujan deras dan harus menuruni jalan gunung yang notabene belum hafal. Kami sempat foto di depan pintu masuk namun tak sepenuhnya berhasil karena hujan keburu turun. Akhirnya kami mengikhlaskan diri dan melanjutkan perjalanan. Oh iya kami juga sempat mampir di pusat pembangkit listrik yang ada di Ngebel. Tentu saja berfoto dan baru pulang.

PJB, PLTA Ngebel
Di perjalanan pulang, kami memutuskan untuk mencari oleh-oleh. Dan dengan petunjuk dari tuan rumah akhirnya kami tersesat di tengah perumahan dan bertanya sebanyak empat kali hanya untuk menemukan tempat beli oleh-oleh. Gokil bener ni tuan rumahnya bisa nyasar-nyasar gitu. Di kota lagi. Good memories!

Kami sampai di rumah lagi dan langsung packing semua barang yang kami bawa. Uah, walau berat masukkinnya ke dalam tas, tapi we have to go back. Belum puas mainnya, dan belum puas makan satenya. Hehe.

Pamit, akh pamit emang bagian yang paling nggak enak. Dan lucu ni anak-anak pada kumpul jadi melingkar, dengan diwakili oleh Upi, kami berpamitan, berpelukan, bersalaman, dan menahan agar jangan sampai nangis, soalnya empunya rumah uda berkaca-kaca duluan mau nangis. Hehe.

Setelah dengan jahatnya membangunkan Iam yang tidur, kami memintanya untuk berfoto bersama dan memoto kami di depan rumah sebelum kita cabut. Ah, nice home, nice family, sayang kami nggak liat adiknya yang satu lagi, Fandy.

Nah, akhirnya perjalana pulang di mulai, kami melalui jalur yang sama seperti berangkatnya. Aku sempat tewas di jalan beberpa jam. Membuatku merasa bersalah pada Oppa yang dari kemarin menyupiri kami. Maaf Oppa. Aku terbangun saat kepalaku out dari sandran kursi dan mulai fokus lagi ke jalanan. Hehe. Kami kemarin pas di rumah Dyb sempet ngomongin bakso/mie ayam wonogiri yang terkenal dan pas kita jalan pulang dengan kecepatan maksimal, aku ngeliat papan nama warung itu dan kita ciiitttt, mengerem dan balik buat nyicipi. Haha, rasanya emang enak, dan harganya juga enak ini, kantongnya rada dalem merogohnya. Haha.

Ah iya, pas pulang kami salah satu penggokan dan masuk ke daerah waduk gajah mungkur. Kami menelusuri jalan yang dibangun tepat di tepi waduk ini dan menikmati senja dari atas waduk. Ah satu lagi bonus perjalanannya walau kami tak sempat berfoto. Jadilah jalur perjalanan kami adalah ponorogo, wonogiri, waduk gajah mungkur, bayat-cawas, klaten, jogja. Wah perjalan yang panjang, soalnya jalannya kecil dan rasanya jauh aja ketika nggak ketemu jalan gede.

Yeah, akhirnya kami sampai jogja lagi dengan selamat dan sehat. Menikmati udara jogja lagi, menyimpan memori perjalan ini. Terimakasih untuk jamuannya sobat, lets meet up next time!

Jogja, 22 Marat 2015
Berfoto setelah turun dari bus air
Telaga Ngebel, setelah pintu masuk
Naris lagi...




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar