Rabu, 17 Oktober 2018

Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa novel by Pitoyo Amrih

Judul : 
Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa
Pengarang : 
Pitoyo Amrih
Jml. Halaman : 
358
Penerbit:
 PINUS-Yogyakarta
ISBN : 
9799901251 

“ Mengapa akhirnya saya harus membela Kurawa….?” itulah mungkin suara hati yang selalu terngiang di nurani Prabu Salya, terutama ketika menjalani hari demi hari perang dahsyat Baratayudha.
Sebuah perang yang begitu hebat, puluhan ribu orang tewas, ratusan ksatria senapati menemui ajal, karena Baratayudha, perang antar saudara ras bangsa Manusia yang seharusnya tak perlu terjadi.
Tapi bagi Salya, perang itu masih tidak seberapa. Peperangan yang sebenarnya, baginya sudah dimulai jauh sebelum Baratayudha. Bahkan sejak muda ketika dirinya masih dipanggil sebagai Narasoma.
Sebuah hingar bingar pertempuran yang terjadi dalam kurun waktu begitu lama, di kesunyian lubuk hati nurani dirinya. Salya, seorang raja besar Mandraka yang harus selalu mengalami pertentangan batin selama hidupnya

Bagi saya, Narasoma/Prabu Salya adalah sosok yang hidup dalam ketidakpastian. Ia adalah sosok di mana kakinya selalu berdiri di atas dua kepentingan yang saling besebrangan. Membuatnya begitu lama untuk memilih. Karena pilihan baginya adalah bagai memakan buah simalakama.

Narasoma merupakan Putra Makhota Kerajaan Mandraka, di masa mudanya ia menjelajah negeri untuk mengolah kanuragan. Kesaktiannya terkenal sampai kepenjuru negeri. Narasoma kemudian menguji dirinya sendiri dengan melakukan perjalanan ke Argobelah. Tempat dimana belum ada seorangpun yang kembali hidup-hidup dari sana. Perjalanan inilah yang membuatnya bertemu dan menikah dengan Dewi Pujawati. Seorang cantik jelita keturunan bangsa Raksasa, Resi Bagaspati.

Kegaluan pertama Narasoma, negaranya sangat menjaga kesucian darah manusia dengan tidak mengawini bangsa lain terutama bangsa raksasa. Hal ini yang membuat Narasoma ragu untuk kembali dan membawa Pujawati. Hingga akhirnya Resi Bagaspati memutuskan memilih jalan kematiannya demi anak dan menantunya. Ia juga mewariskan ajian Candrabirawa pada Narosama. Ajian yang dikenal amat berbahaya dan mematikan.

Sepulangnya dari Argobelah, Narasoma tidak tinggal di Mandraka untuk waktu yang lama. Ia diusir oleh ayahnya sendiri dan tinggal di pinggir Negeri Mandura, adiknya Dewi Madrim ikut bersamanya. Saat sayembara untuk menemukan sekutu bagi negeri Mandura, Dewi Madirm inilah yang nantinya menjadi istri kedua Prabu Pandu setelah ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Dewi Kunti dari Mandura.

Kegaluan lain Narasoma adalah ketika anak ke empatnya lahir, Burisrawa. Burisrawa merupakan keturunan bangsa Raksasa. Ia tidak bisa membawa pulang Burisrawa ke Mandraka. Hal ini lah yang akhirnya membuat Narasoma meninggalkan bayi Burisrawa di tengah para Kurawa. Sekembalinya Narasoma ke Mandraka, ia mewarisi tahta dan bergelar Prabu Salya. Negerinya pun makmur, hubungan kerjasama dengan tetangga begitu baik. Sampai peristiwa hilangnya Pandu dan Madrim. Raden Samiaji (Puntadewa) masih begitu muda untuk mewarisi tahta Ngastina pada waktu itu hingga tampuk kepemimpinan Hastina jatuh pada Kakak Pandu yaitu Raden Destrarastra. Raden Destrarastra yang dalam kondisi lemah tidak mampu memimpin Hastina dengan baik tanpa bantuan Duryudana. Pada akhirnya Duryudana menuntut tahta Hastina dan enggan berbagi kekuasaan dengan Pandawa. Pecahlah keputusan perang baratayudha ini.

Prabu Salya kembali merasakan kegaluan, bantuannya di butuhkan saat perang. Tapi ia tidak bisa memilih untuk berada dipihak siapa. Pandawa adalah wujud kebaikan, kedua keponakannya ada di sana. Sedangkan Duryudana, merupakan menantu yang sangat disukainya. Belum lagi hutangnya pada Hastina yang telah merawat Burisrawa. Lama sekali Prabu Salya memutuskan pihak mana yang ia bela. Hingga akhirnya Pujawati memerintahkan pasukan Mandraka untuk pergi ke Padang Kurusetra membela Hastina.

Saya juga tidak tahu pasti apa yang membuat Salya memilih untuk berperang melawan Pandawa. Namun, kemanapun pilihan Salya, Padang Kurusetra adalah jalan kematiannya. Dan satu-satunya orang yang bisa melawan ajian Candrabirawa adalah Puntadewa. Mungkin itulah alasannya kenapa ia memilih untuk melawan Pandawa. Memilih jalan kematiannya.

“Hidup. Pastilah berakhir dengan kematian. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana kehidupan kita bisa memberikan pelajaran bagi anak cucu kita” halaman 316.
 
​Begitulah percakapan Salya dengan Kresa malam sebelum ia meninggal. Novel ini layaknya sebuah biografi dari Prabu Salya. Kisah tokoh-tokoh lain hanya berupa penggalan singkat dari novel ini. Saya benar-benar bisa merasakan kegaluan Narasoma. Bisa begitu mengerti pilihan yang ada dihadapannya begitu rumit. Sosoknya menjadi begitu abu-abu. Tidak tahu benar mana yang harus ia bela. Begitu reflektif dengan kehidupan sekarang dimana banyak orang atau pemimpin yang begitu sulit untuk menentukan keputusan. Padahal mereka tahu mana yang benar dan salah, mana yang pantas di bela atau dihukum. Cocok sekali untuk pembelajaran diri, untuk refleksi diri.

Pada akhirnya, novel ini tetap memberikan gambaran kehidupan yang begitu mengena, kita belajar tanpa merasa digurui. Recommended untuk semua golongan terutama dewasa muda ke atas agar lebih baik lagi dalam memaknai kehidupan.
My Rate is 4 of 5.​
Yah tidak ada yang sempurna,
Masih banyak pertanyaan pribadi saya yang tidak terjawab.
Entah kenapa saya penasaran dengan Prabu Kresna. hihihi

tulisan ini pernah dilombakan di forum indowebster
Bookreview IDWS 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar