Kamis, 12 April 2012

AIR TERJUN KEDUNG KAYANG

Air Terjun Kedung Kayang
Catatan perjalanan ini sepertinya tak akan pernah cukup untuk memenuhi setiap langkah perjalanan hidup ini dan kali ini catatan perjalanan yang akan tertorehkan adalah ke Air Terjun Kedung Kayang. Selamat berpetualang...

Tujuan perjalanan kami sebenarnya bukan ke Air Terjun ini, kami hanya iseng melepas lelah di tempat biasa kami mengistirahatkan benak, Ketep Pass. Sambil berkumpul dan berbincang-bincang, munculah ide Air Terjun Kedung Kayang dalam ageda perjalanan pulang kami. Walau sering sekali ke Ketep, saya sendiri pun belum pernah mampir ke wisata air terjun yang lokasinya cukup dekat untuk ditempuh. Benar saja, seusai membuang sauh(cieh) kami turun dari Ketep Pass dan berbelok pada pertigaan ke arah Boyolali. Menurut desas desus desis Ait Terjun itu terletak diperbatasan Boyolali dan Selo.

Benar saja, akses menuju tempat wisata ini, cukup mudah dari Ketep Pass, hanya perlu melewati jalan yang naik turun dan berkelok-kelok lalu sampailah ke tempat tujuan. Jangan salah, pintu gerbang masuk ke Air Terjun Kedung Kayang ini benar-benar menipu. Gapura ini seperti gapura saat akan memasuki perkampungan, yang membedakan hanya ada tulisan dan petujuk lokasi wisata tersebut.

Air Terjun Kedung Kayang teletak di Sawangan kabupaten Magelang, tapi banyak juga yang menganggap bawa air terjun ini masuk ke kecamatan Selo, Boyolali (wajar seperti yang disebutkan sebelumnya, lokasi wisata ini berada di daerah perbatasan). Untuk masuk ke lokasi tersebut, atas dasar perda No. 6 tahun 2007 pengujung dikenakan biaya Rp 2.000 per orang (Tahun 2011). Sebagai catatan belum termasuk jasa parkir.

Sungai yang ditempuh menuju lokasi
Setelah melewati gerbang, perjalanan dilakukan dengan jalan kaki. Perjalanan yang kembali cukup panjang. Kami menelusuri jalan yang sudah dibangun di antara rumah-rumah penduduk dan warung tempat makan. Setelah itu, kami sampai unjung jalan yang terdapat petujuk-pentujuk lokasi wisata. Ke arah air terjun dan atas air terjun. Selain itu ada juga bumi perkemahan di lokasi ini. Kami memutuskan untuk pergi ke bawah air terjun mengingat tingginya air terjun dari atas juga resikonya lebih berbahaya bila terseret arus.

Selangkah demi selangkah kami menuruni anak tangga yang lumayan banyak sampai ke dasar tebing di tubuh sungai tersebut. Perjalanan yang menyenangkan tanpa mengingat perjalanan naiknya yang luar biasa bagi yang tidak pernah berjalan jauh dan tentunya menanjak(hahaha). Jalanan yang bertangga itu perlahan digantikan dengan jalan setapak diantara pertanian penduduk. Saat itu ditanami tembakau. Kemudian, jalan mulai diganti dengan menyusuri sungai untuk sampai ke air terjun.


Perjalanan ke arah air terjun harus ekstra hati-hati mengingat kondisi di sini lembab dan batu-batu besar banyak yang licin. Percaya saja, ketika pulang saya mendapat oleh-oleh alhasil dari kepleset di antara banyaknya batuan sungai. Selain itu, mengingat sungai ini merupakan sungai yang berhulu dari Gunung Merapi dan Merbabu, pengujung harus benar-benar berhati-hati dalam membaca alam. Air terjun ini memang hebat, tapi juga punya sejarah pahit bagi beberapa orang yang keluarganya menjadi korban karena terseret arus saat banjir tiba-tiba melanda sungai.


Kembali ke cerita, sampainya di air terjun udara pun berubah dari yang tadinya sudah dingin menjadi lebih dingin dan lembab. Butiran-butiran lembut air yang melayang di udara bersamaan dengan jatuhnya air sungai tanpa sadar membasahi baju yang kami kenakan. Suara gemuruh air yang jatuh serasa mengambarkan kekuasaanNya. Sambil menuggu teman-temanku yang berbasah-basah ria, saya memandang keindahan alam ini, masih alami dan belum banyak campur tangan manusia di dalamnya. Sejuk, dingin, dan nyaman, benar-benar back to nature jika dibandingkan dengan semua kepenatan agenda kuliah kami. 



Catatan perjalanan yang indah mengingat indahnya hari ini untuk orang terdekatku, semoga catatan perjalanan kali ini seindah kelahiranmu di dunia ini. Besar rasa syukur kuucapkan atas hari ini, dan atas kehadiranmu yang mewarnai hidup orang-orang disekitarmu, 
Oppa...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar