Senin, 26 Maret 2012

Pendakian (Mini) Gunung Api Purba Langgeran

Gunung Api Purba Langgeran
Merasakan hawa pegunungan mungkin sangat “mahal” bagi mereka yang kurang menyukai wisata hiking ke puncak-puncak gunung. Tapi beda dengan yang satu ini, yang tak berpengalaman pun bisa merasakan bagaimana menadaki gunung. Walau sensainya berbeda tapi tidak ada salahnya untuk menilik salah satu daerah Gunung Api Purba Langgeran.
Langgeran
     Ini sudah kesekian kalinya, tapi pemandangan dari atas gunung api purba ini memang tidak pernah menjemukan mata. Tak salah bila kini tempat ini mulai dijadikan tujuan wisata oleh berbagai kalangan, baik anak-anak sampai yang lansia juga tertarik dengan tempat ini.
     Gunung Api Purba Langgeran(GAPL), berada di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Dari pusat kota hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit(tergantung oleh kondisi lalu lintas). Dari jogja langsung masuk ke Jl. Wonosari lurus dan perempatan dekat radio GCD FM belok ke kiri atau ke arah utara  menuju Desa Langgeran. Jalan menuju kawasan GAPL ini sudah di aspal dengan baik dan bagus, hanya beberapa meter saja yang sedikit rusak saat mulai memasuki daerah wisata.

Lorong Langgeran
Wisata ini masih di kelola oleh pemuda karang taruna daerah setempat. Untuk masuk ke sana pengunjung perlu membayar Rp 2.000,- perorang, kecuali untuk menginap/camping Rp 5.000,- per orang. Fasilitas yang disudah cukup lengkap mulai dari WC umum, Pendopo, Petunjuk Arah( jadi kemungkinan tersesat itu sesikit), beberapa tali untuk membantuk dalam tracking jalan,dll.
Setelah cukup membaca denah yang ada di depan jalan menuju puncak, kami mulai menyiapkan diri untuk menempuh pendakian mini ini. Baru beberapa  menit, jalan setapak itu mulai menantang. Segala macam jalan ada di sini, mulai dari yang berlumpur, berbatu, miring 60 derajat lebih, trowongan, dll. Pokoknya sensainya menarik. Hanya saja sebagai catatan, pengunjung harus berhati-hati dengan medan yang berbatu dan medan yang sangat licin saat musim hujan.

Perjalanan pertama, niatnya refresing sekalian survai ketempat ini. Tapi yang ditemukan meleblihi harapan (alhamdulilah). Hari itu siang hari, selepas hujan dan cuaca sangat cerah. Tapi selain keindahan alam yang kami dapatkan juga terdapat kendala. Jalannya paling licin. Sempat satu dua kali hampir terjembab pada kubangan tanah yang licin dan lengket. Dimaklumi saja karena tanah disini sudah berusia tua.

Menikmati Puncak Langgeran
Gunung Api purba ini memiliki ketinggian antara 200-700 meter diatas permukaan air laut. Kawasan ini berada di rangkaian pegunungan Baturagung dan didominasi oleh batuan-batuan raksasa yang masih berselingan dengan vegetasi. Dulunya merupakan Gunung Api aktif 25 juta tahun silam yang kemudian mati dan mengalami erosi sehingga mengalami penyingkapan. Dari situlah maka sekarang kita dapat melihat singkapan batuan yang menjulang tinggi, besar, nan kokoh.

Yang kedua, trakingnya cukup lumayan. Tidak terlalu licin walau masih ada di beberapa titik. Ini karena musim hujan yang membuat kondisinya seperti itu. Hari itu kami membawa peralatan memasak. Sore itu kami memasak mie rebus. Oh tidak ini pengalaman yang luar biasa dan akan dijadikan pelajaran seumur hidup. Sungguh butuh perjuangan berat menyalakan api dengan bahan bakar parafin di sini. Anginnya bertiup kencang dan membuat kami semua mabuk parafin. Api menjadi susah menyala dan parahnya, ternyata pancinya bocor. Ini membuat perjuangan semakin berat untuk memasak mie itu. Dan hasil akhirnya tentu mie itu sangat enak mengingat perjuangannya walau diakui rasanya seakan-akan bercampur dengan parafin. Perfect!

Di atas Gunung ini terdapat beberapa titik yang dapat dimanfaatkan untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa baik pagi (sunrise), siang, sore (sunset) dan juga malam hari. Sunset dan sunrise dari puncak gunung api purba ini tak kalah indahnya. Bagi yang camping bisa memilih tempatnya sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

Perjalanan yang terakhir tapi bukan akhirku ke kawasan ini adalah untuk camping. Kami membawa 3 tenda waktu itu, tapi ternyata sia-sia. Tiga-tiganya berdiri tapi hanya satu yang digunakan, tidur di atas batuan berlapis matras bukanlah hal yang tidak nyaman. Benar-benar tidur seperti beralaskan bumi beratap langit. Kami bersebelas sibuk mendesak-desakkan diri di alam bebas. Sambil memandang laingit, bermain kata-kata dan tertawa sampai pagi. Sungguh menyenangkan ketika itu musim hujan tapi kalian disambut oleh cahaya bulan remang-remang yang berjalinan cantik dengan awan.
Ah benar, banyak tempat di sini yang indah jika kita bisa memaknai keindahan tersebut dari rasa syukur dan ikhlas.
Pekok Area

Galeri Wong Kurang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar