Jumat, 13 Juli 2012

Meneropong Yogyakarta dari Kalitengah

Pemandangan dari Kalitengah
   Udara siang itu sangatlah dingin ditengah teriknya matahari. Nafas kami berpacu dengan menurunnya kadar oksigen di udara. Kami ambil udara dingin ini sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru kami sambil melemaskan badan setelah perjalanan yang melelahkan. Rasa lega memenuhi dada kami, indah, sejuk, asri, dan juga takjub melihat kuasa Illahi. Subhanallah....

Jalan setapak yang kami lalui
   Perjalanan kami sungguh ajaib bisa sampai tempat ini. Menggunakan dua motor Satria F yang sudah dimodifikasi sehingga kedua ban-nya lebih kecil, jok yang minim busa, dan juga spesifikasi yang luar biasa tidak cocok untuk ke tempat seperti ini, tapi kami berhasil mencapai daerah ini. Bayangkan saja, motor seperti ini dipakai untuk nge-tril dijalan setapak yang cocoknya untuk speda motor jenis KLX. Sungguh suatu keajaiban ban kami tidak bocor atau peleg kami yang kalah dan hanya kembali rasa syukur itu yang kami ucapkan. 
Perjalanan yang luar biasa! Wow! 
Akhirnya sampai juga...
     Sudah lebih dari setahun setelah kejadian erupsi merapi tahun 2010 lalu. Sisa-sisa kayu yang hitam masih satu dua berdiri di antara rimbunnya tunas-tunas baru, mengingatkan betapa besar kuasa pemilik alam. Tempat kami berdiri kini telah menghijau, kehidupan baru terbentuk, janji-janji kehidupan sudah telihat. Kalitengah merupakan salah satu tempat yang luluh lantah terkena bencana 2010 silam. Tapi lihatlah sekarang, warga mulai tersenyum, bangkit dari semua ujian tersebut, dan mulai membangun kehidupan baru, rumah baru, serta perjuangan baru ditengah himbauan relokasi. Inilah tanah kami, ibu kami, dan tempat kami akan kembali. Mungkin hal itulah yang membuat mereka bertahan dibalik bukit kendil yang selama ini mereka percaya akan selalu melindungi dari merapi.
     Dan di sinilah kami berdiri sekarang, dibalik bukit kendil ini. Cuaca begitu panas, namun kabut gunung sesekali turun dan membuat bulu kuduk berdiri kedinginan. Merapi tersembunyi dibaliknya. Sedikit memunculkan rasa takut, namun kami yakin akan terbiasa dengannya seperti warga di sini. Tempat ini sangat sepi, hanya satu dua pejalan kaki yang ikut menikmati pemandangan dari ujung paling utara ini. maklum, ini bukan tempat pariwisata.
Galeri 1
Tempat ini jauh dari permukiman, untuk menemukannya kami harus melewati hutan yang baru saja tumbuh. Bila sedang ingin menyendiri atau melepaskan diri dari kepenatan rutinitas, piknik di sini sepertinya ide yang baik. Hanya satu dua penduduk yang beraktifitas membuat arang, mencari kayu atau berkebun di sini. Namun bila memang ingin refresing, kendaraan khusus diperlukan untuk mencapai tempat ini kecuali dengan modal nekat itu tadi.
Galeri 2
     Kalitengah masuk ke wilayah Klaten, mudah saja untuk mencapainya karena pasca erupsi, daerah ini sudah tak lagi asing. Hanya saja untuk mencapai tempat ini, perjalannya memang menguji niat. Jalannya banyak yang rusak karena dilalui oleh berbagai kendaraan berat pengangkut material merapi. Maklum saja, banyak warga yang kini beralih mencari bahan galian golongan C ini setelah erupsi.
     Sungguh, ketika memang kepenatan hidup mulai menghimpit jalan kalian. Berhentilah, dan keluar dari dalamnya, mencoba melihat sisi lain kehidupanmu dari jauh, dan rasakan kebebasan ini sambil terus bersyukur melihat kekuasaanNya. 

Kedua kuda besi ajaib! haha (nggak maksud pamer lo)
Galeri 3
Galeri 4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar