Rabu, 24 Juni 2015

Road To Museum At Malang Part 1; Museum Bagong (The Bagong Adventure Museum Tubuh)




Salam Sahabat Museum!
Museum di Hatiku!


Cieellah,, gaya saya kini berubah! Yah semenjak menjadi bagian dari museum sepertinya kini saatnya tulisannya saya di blog ini bertambah satu tag yaitu Museum di Hatiku. hehe...

Saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Malang akhir April lalu. Sebagai salah pelatihan insan permuseuman di hari terakhir pelatihan kami berkunjung ke tiga museum yaitu Museum Bagong ini, Museum Satwa dan yang terakhir adalah Museum Angkut.
Pagi itu setelah sarapan dan check out, saya beserta rombongan memulai perjalanan hari ini dari Museum Bagong. Museum Bagong atau The Bagong Adventure Museum Tubuh adalah museum yang masih menjadi satu bagian dengan Jawa Timur Park 1 yakni di Jl. Kartika No 2 Kota Wisata Batu. Tepatnya berada di sisi sebelah kiri pintu masuk Jawa Timur Park 1. Penamaan Museum Bagong mengambil karakter Bagong yang merupakan karakter tokoh pewayangan empat sekawan yang sangat fenomenal yakni : Semar, Petruk, Bangong dan Gareng. Di antara empat sekawan itulah, Bagong merupakan karakter yang paling menonjol dengan kepintarannya dan yang paling cerdik serta lucu. Selain filosofi tersebut Museum tubuh juga turut menjaga budaya dan melestarikanya nama-nama tokoh pewayangan khususnya adat jawa. Bagong Museum Tubuh tidak terlepas dengan Jatimpark1 yang mengusung tema Punokawan (www.jatimpark1.com)

Oke, oke setelah teori itu kesimpulannya apa? Ya kesimpulannya adalah museum ini tentang tubuh manusia. Sudah tahu kan bagian tubuh manusia itu apa aja? Nah, di museum ini kita akan berubah menjadi makluk mini yang mengeksplorasi anatomi tubuh manusia. Terdapat zona-zona seperti Zona Otak, Mulut, Gigi, Telinga, Hidung, Mata, Paru-paru, Jantung, Hati, Usus besar, Usus Halus, Lambung, Pembuluh Darah, Tulang dan zona-zona lainnya yang saya nggak apal. hehe...

Karena saya bukan dari ilmu biologi, saya hanya mengangguk iya-iya aja waktu pemandu/edukator di setiap zona menceritakan wilayah kekuasaannya. Penjelasan yang keren di tambah lagi fasilitas multimedia yang canggih membuat pelayanan yang kami rasakan terasa maksimal dan sebanding dengan tiket masuknya yang ehm mahal. haha.

Ketika saya berkeliling memasukki museum ini saya benar-benar merasakan berada di dalam tubuh manusia. Display atau tampilan museum didesesain layaknya bagian tubuh manusia, kronologis dan dilengkapi dengan peraga masing-masing karakter bagian tubuh. Lorong antar bagian tubuh juga didesain layaknya bagian tubuh aslinya. Selain itu, peraga atau simulator, keberadaan kedua hal ini sangat mendukung kelengkapan informasi yang diterima oleh pengujung. Tidak hanya melihat dan mendengarkan, tapi pengujung juga berpartisispasi dalam mengeksplorasi berbagai hal yang berhubungan dengan tubuh dan juga perawatannya.

Nah yang paling menarik nih, setelah kita keluar dari tubuh, kita di berikan pelayanan gratis untuk cek gula darah, kolesterol, asam urat, tensi darah, dll. Wah menarik sekali ya, sayang saya takut duluan sama jarum suntik yang akhienya membuat saya nyempil memepet dipojokan sambil nunggu teman-teman periksa.

Kalau bicara kurangnya sih sedikit sekali ya, tapi berhubung tulisan saya terkait permuseuman yang saya soroti adalah koleksi. Koleksi yang dipamerkan oleh museum masih sangat minim, tapi saya juga mikir, kalau museum tubuh koleksinya asli merinding juga kali ya saya. Bayangkan kalau di situ ada bagian tubuh saudara-saudara kalian sebangsa dan setanah air. hiiii. Saya jadi ingat saat saya memasukki ruangan yang berisi koleksi mumi atau manusia yang di awetkan. Koleksi ini adalah koleksi yang paling horor yang pernah saya temui. Walaupun pengujung merasakan pengalaman baru namun saya masih bingung tujuannya untuk apa. Saya bertanya pada seorang pemandu di sana, dan informasi yang saya peroleh adalah sebatas bahwa kelima awetan manusia ini di impor dari Thailand dan mereka (orang-orang yang sudah mati tersebut) mendedikasikan diri mereka untuk dijadikan mumi. Keterangan di dalam ruang pamer yang bersifat tertutup ini juga hanya cara untuk mengawetkan mereka. Saya masih bertanya kenapa beberapa awetan harus di bentuk sedemikian rupa dan dengan background berbeda-beda, apakah request atau apa tapi pemandu tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti. Tidak ada keterangan sama sekali dan akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa kehadiran mereka kembali bisu atau mati di ruangan tersebut. Merinding juga di dalam sana lama-lama, nah saya memutuskan untuk keluar dari ruangan mumi itu tapi tak beberapa detik kemudian saya kembali masuk karena di luar sepi sekali. haha, nyali saya ciut juga deh. . .

Kami keluar dari Museum Bagong sekitar tiga jam sesudahnya, uah pengalaman yang luar biasa. Seolah-olah setelah kita keluar dari museum kita kembali ke bentuk normal lagi. Taraaa...

Next Journey to Museum Satwa!
Go go go!

Pasukan Seksi Museum dan Edukator 2015

Edukator Museum 2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar