Selasa, 30 Juni 2015

Still Super Show 6; End of This Night Dream

Dan cerita gila saya masih terus berlanjut...

Jeng jeng jejeng jeng! 

Saya melongo melihat pangung Super Show 6 ada di depan mata saya. Hawa dinginnya AC menambah bulu kuduk saya semakin berdiri (karena kedinginan). Buset dah, ini tempat konser atau frezzer raksasa ye? Dinginnya luar biasa! Saya masih menikmati suasana venue Yellow B saat tiba-tiba lampu seluruh venue mati dan backsound Super Show mulai terdengar. Saya yang sudah sempat melihat cuplikan SS6 di Jepang sedikit banyak sudah tau tentang alur konser ini. Saya yang tadinya stay cool di belakang dekat pagar pembatas maju mendekati panggung yang jaraknya kurang dari lima meter. Ah kira-kira yang terbang keluar dari sini sesuai dengan prediksi saya nggak ya?

DEEERRR....

Seseorang yang sudah saya prediksikan muncul di hadapan saya, setelah itu saya tidak sadarkan diri. Tidak sadarkan diri dalam artian, tadinya yang saya masih stay cool sambil menyilangkan tangan di depan dada saya sudah hilang kesadaran dan ikut berteriak histeris menyatu dengan teriakan ELF lainnya. Detik itu juga saya sadar, saya hanyalah seorang fans biasa seperti teman-teman lainnya. Saya pun dari depan panggung berlari ke belakang menghapiri Chan yang masih bersandar dengan posisi nyaman di pagar.

“Chan, Chan, Chan!  Eunhyuk Oppa, Chan!” saya berlari ke arah Chan kemudian kembali lagi menuju ke samping panggung dan kembali lagi ke Chan sambil menunjuk-nujunk salah satu personil Super Junior. Bodo amatlah dengan image saya yang tomboy dan cool, hari ini pengecualian, nggak ada yang tahu ini. Saya bergabung dengan fans-fans lain menjadi fangirl seutuhnya, just let the beat goes on lah. Haha.

Super Show's Light
Konser selama kurang lebih 4 jam itu bagaikan jet coaster yang melaju dengan kecepatan ratusan km per jam. Cepat sekali rasanya, saya membaur jadi satu dengan euforia konser. Ikut tertawa dengan ocehan Oppa yang saya pahami dengan bahasa korea saya yang masih standar, ikut terharu dengan kalimat-kalimat yang diutarakan dan bahkan ikut berkaca-kaca mendengar lagu sedih. Kalian pasti berfikir saya gila. Ya saya gila saat itu. Mata saya tak bisa melepaskan diri dari panggung dan telinga saya hanya mendengar suara ELF dan Suju. Bodoh sekali. Saya meyakinkan diri saya, bahwa setidaknya ini adalah pengalaman yang paling tidak sekali dalam hidup saya akan bermanfaat. Harus! Mungkin setelah ini saya bisa insaf kali ya jadi fangirl (itu tidak terbukti sampai sekarang ternyata. haha)

Konser sebentar lagi berakhir, tinggal encorenya saja. Saya hanya termangu sambil bersandaran pada pagar pembatas, kaki saya lemas dan suara saya serak karena terlalu out of energy. Kembali meyakinkan diri bahwa semua tadi nyata. Lain saya yang tersenyum sumringah, Chan justru menitikan air mata! Lebay kali ini anak, tadi pas saya nangis dia stay cool di belakang sambil memasang muka mengejek, kini dianya yang gantian nangis. Ni anak bersyukur karena telah menonton konser atau nangis karena konser sudah selesai dan harus pulang sih? Saya jadi ikut melongo sendiri ngeliatnya. Cup cup cup sayang.

Akhirnya konser itu berakhir, kami masih dengan berat hati meninggalkan venue. Berjalan mengulangi jejak perjuangan langkah kami sampai bisa masuk ke venue dan akhirnya keluar dari hall. Hall sudah sepenuhnya bersih, lantai yang tadinya penuh dengan sampah makanan dan minuman sudah bersih kinclong. Embun yang berasal dari AC juga mempercantik kaca-kaca hall sehingga mendadak suasana menjadi syahdu. Membuat kami berada diambang kesadaran antara mimpi dan kenyataan.

Bruuum! 
Oh... Kami kembali ke kenyataan saat melihat dan mendengar suara bus kami yang sudah datang mendekakt menjemput kami untuk kembali ke Jogja. Sambil melirik lagi ke arah ICE BSD City, saya mulai mengintropeksi apa-apa saja yang saya dapatkan hari ini. Terus menyelami perjalanan tiga hari ini sampai saya benar-benar masuk kembali ke dunia mimpi.

Oh, saya sudah di Jogja! Saya mengejap-ejapkan mata saya ketika saya sudah sampai di Jl Magelang. Ah saya benar-benar bermimpikah? Saya lalu menoleh dan melihat Chan yang juga tertidur di samping saya. Wkaka, tak hanya saya tapi  semua orang sepertinya sedang merasakan mimpi  yang sama. Saya tidur selama kurang lebih 14 jam di dalam bus, dan 28 jam jika di hitung bolak balik Jogja-Jakarta, Jakarta Jogja.   

Pengalaman konser yang saya lalui adalah milik saya sendiri. Kalian tidak bisa membayangkan apa yang saya dapatkan karena kalian tidak menyaksikannya. Adapun jika menyaksikannya pun pastinya berbeda. Namun pelajaran yang saya dapatkan dapat menjadi milik bersama.

“Besar kecil harapan, mimpi, dan keinginan itu membutuhkan pengorbannan. Semua yang awalnya tidak mungkin akan menjadi mungkin jika kita mengusahakannya. Pengorbanan itu tidak selamanya diwujudkan oleh nominal angka, nominal itu akan menjadi hal yang tak terfikir bila kita menilainya dengan penghargaan terhadap diri sendiri. . .”

Ini semua berasal dari mimpi, setidaknya dengan saya berada di sana, saya menjadi percaya bahwa ini adalah kenyataan yang saya buat. Mimpi itu akan tetap menjadi mimpi atau dibawa ke dunia nyata bergantung pada kemauan kita. Saya bisa, dan mulai sekarang saya percaya bahwa mimpi-mimpi saya yang lain akan menjadi kenyataan. That was like a boast up to next level of my dream. 

And the end of this night dream was happy ending,
ups its not ending....yet...
Uri Super Juni-O-R; Source : Twitter smtownglobal
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar