Senin, 22 Juni 2015

Road to Super Junior Super Show 6; Gemerlap Shappir Blue Ocean


Menulis lagi, setelah sekian lama...

Kali ini saya ingin bercerita dibalik perjalanan saya melihat Show Super Junior yang ke 6.  Hanya sebuah catatan kecil namun begitu terang hingga menganggu pikiran ketika tidak dituliskan.

Saya masih begitu speechless melihat bon ATM bertuliskan beberapa nominal yang saya keluarkan hanya untuk hal yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan. Mungkin dibandingkan yang lain, nominal ini tidaklah sebanyak nominal yang lainnya mengingat tiket yang saya beli adalah tiket yang paling murah. Namun tetap saja nominal itu adalah hasil saya bekerja beberapa bulan ini.
“Kamu kurang kerjaan banget sih? Membuang waktu, uang dan tenaga saja sampai ke sana HANYA untuk melihat Suju! Apa dengan membayar berjuta-juta kamu bisa foto dengannya? Berjabat tangan? Kenalan?” seorang teman menanyakan hal itu pada saya. Tidak hanya satu teman tapi banyak sampai saya kesal sendiri. Waktu itu saya hanya tersenyum tapi dalam hati saya,
“Aku juga tau. Aku juga bingung kenapa aku sampai hati membelinya, aku aja nggak tau jawabannya apalagi kamu? Dan kenalan? Pertanyaan bodoh, mana  bisa! Aku tuh beli tiket paling murah tauk,” lalu kenapa? Sampai sekarang saya masih tidak mengerti. Bukannya hal itu sama ketika kau rela mengelurakan berapa uang untuk melakoni apa yang jadi keinginanmu? Lalu kenapa dengan entengnya membodohkan apa yang menjadi pilihan saya? Lagian semua yang saya keluarkan bukan pemberian kaliankan? Tersenyum, lagi-lagi saya tersenyum merasa tidak ada yang saya rugikan dan tidak ada yang saya sesali.

Saya tak pernah memikirkannya, namun saya juga punya mimpi untuk melihatnya. Setelah lima tahun ini saya hanya melihat sosok mereka dan mendengarnya melalui layar kaca, lalu apa salahnya setidaknya saya selangkah lebih dekat untuk melihat mereka secara langsung? Huh, jawabannya tidak salah. Hanya saja sudut pandang masing-masing orang  terkait dengan jalan hidup itu berbeda dan tidak sepantasnya kita melihatnya sebelah mata.

Perasaan saya masih sama seperti sebelumnya sampai beberapa hari sebelum keberangkatan, perasaan tak yakin dengan apa yang akan saya lakukan. Waktu itu saya juga sedang ada perjanan dinas ke Malang sampai tanggal 30 April. Hari keberangkatan jatuh sehari setelah kepulangan saya dari Malang, 2 Mei 2015. Pagi itu Jogja di guyur hujan lebat. Baiklah ini bukan tanda sialkan? Hujan itu di turunkan oleh malaikat Mikail, malaikat yang juga membagi rizki, jadi ini juga adalah tanda baik bahwa perjalanan ini akan berbuah sebuah pengalaman dan pelajaran. Berangkatlah kami ke Jakarta dengan Bus yang kami sewa. Tidak terlalu buruk mengingat saya yang masih jetleg dari Malang dua hari sebelumnya. Kami tiba di wisma haji dini hari, tanggal 3 Mei untuk beristirahat dan bebersih diri. Saya masih bisa tidur nyenyak walaupun saya tahu hari ini adalah tanggal yang sama dengan konser dilaksanakan. Lebih nyenyak daripada hari-hari yang saya lalui beberpa tahun lalu di Super Show yang ke 4 dan ke 5 di mana saya tidak bisa melihatnya secara langsung. Paling nggak hal ini adalah hal yang positif karena mata saya tidak sembab dan sayu karena menangis dan tidak bisa tidur. Hahaha

Pagi sekitar jam setengah enam kami berangkat dari wisma haji menuju Tangerang, BSD city tempat show berlangsung, tempatnya di Indonesia Convention Exhibition (ICE). Masih dengan membawa nasi kotak yang belum sempat saya makan, saya duduk di taman ICE. Menikmati matarahari pagi sambil sarapan. Masih jam 7 pagi tapi ICE  sudah begitu ramai dengan ELF sebutan untuk penggemar Suju. Padahal konser baru dimulai pukul 2 siang. Antusiasme yang luar biasa!

Karena tiket belum di tangan, akhirnya kami, saya dan Chan memutuskan untuk ikut mengantri di Hall 10. Seperti dugaan saya, antriannya tidak nyaman karena teman-teman saling dorong dan berteriak-teriak. Masih jam 10 pagi dan sudah banyak yang pingsan karena adegan ini. Saya mulai berfikir di tengah tubuh saya yang sudah tidak lagi menginjak tanah, benarkah saya ada di sini? Mimipkah? Apa pilihan saya salah? Apa saya bodoh? Terus pikiran saya mikir yang aneh-aneh. Betapa tidak, tubuh saya tergencet kanan kiri depan belakang hingga terasa saya tidak berdiri di atas kaki saya sendiri. The power of ELF katanya. Saya pun dengan berat hati menyerah dan meninggalkan Chan dalam keramaian karena saya merasa sebentar lagi juga akan pingsan. 

Saya menepi, dengan sinyal yang naik turun dan penuh dengan harapan palsu saya masih berhubungan dengan Chan. Dia tergencet-gencet untuk mencari tiket dan saya yang berhasil lolos justru melihat pembawa tiket kami keluar dari hall. Saya menghubungi Chan dan dia sudah tidak bisa keluar dari sana. Tak beberapa lama akhirnya Chan berhasil masuk dan sibuk mencari saya yang dia kira sudah masuk hanya karena sebuah kalimat, “buruan masuk, di dalem dingin”. Dia kalap mengira saya berhasil masuk, padahal saya hanya bersandar di antara celah pintu hall 9 dimana AC menerobos dari sana.  Sambil tertawa saya mengetuk kaca hall 9 dan berhasil menarik perhatiannya yang lari mondar-mandir mencari saya. Lucu tapi juga kasihan. Setelah tiket di tangan, kami masih menjalani adegan romantis. Duduk bersampingan, dibatasi dengan pintu kaca hall dan berkomunikasi melalui sosial media. Kalau mengingatnya saya masih geli sendiri melihat tingkah konyol kami.

Jam 11.30 akhirnya Chan sudah tidak sabar untuk membuang pembatas antara kami berdua. Akhirnya dengan malas saya berjalan untuk mengantri lagi masuk dari hall 10. Malas, mengingat adegan saling dorong tadi. Tapi apa boleh buat. Saya menyelinap dari orang ke orang dan berhasil berdiri dekat pintu ganda Hall 10. Kembali saya bersadar di celah-celah kaca hall. Belum sampai sepuluh menit saya berdiri, tiba-tiba kaca tempat bersandar saya di buka satpam dan saya di tarik ke dalam hall. Tak sampai hitungan detik saya sudah di dalam, pikiran saya masih belum berhasil mencernanya. Sambil bengong saya mikir kok bisa saya di dalam. Ternyata untuk mengurangi antrian di pintu utama, para satpam menguranginya dengan menyeret orang satu persatu melalui single door tersebut. Dan saya adalah salah satu orang beruntung yang diseret itu karena kaca yang tempat saya nempel tadi ternyata single door hall 10.

Dengan ceria saya berjalan melewati antrian dengan alasan untuk mengambil tiket. Saya pun bergegas ke hall 9 karena Chan masih menunggu di sana. Dia terkejut saya sudah ada di dalam. Mukanya penuh tanda tanya dan juga perasaan tidak terima. Kenapa kamu bisa secepat itu?! Aku hanya meringis memamerkan gigiku senang.
Kami masuk ke Hall enam dan lima. Pintu masuk venue kami ada di samping hall tersebut. Kami harus mengantri lagi selama dua jam. Bedanya kali ini kita duduk, tidak berdesakan , dan yang terpenting adalah dingin AC. Kami tidak membawa makanan namun ada makanan yang di jual di dalam dan harganya muahaaal banget. Nggak usah saya sebutkan karena bikin sakit hati jika mengingat tas kami nggak di cek secara keseluruhan. Lucunya, saat mengantri ini temen-temen ELF lain berteriak-teriak histeris saat mendengar suara musik yang terdengar dari dalam venue. Begini ya rasanya nonton konser bintang hallyu? Saya tertawa menikmati setiap moment ini. 

Jam 2 kurang akhirnya kami dipersilahkan untuk masuk ke venue. Semuanya lari dan terburu-buru untuk masuk ke dalam.  Antusiasme yang masih sama dengan yang saya rasakan tadi pagi. Sebelum masuk ke venue saya menarik nafas dalam. Mengingatkan kembali bahwa saat saya melangkah melalui pintu ini saya tidak lagi bermimpi. (bersambung) 
I'm Here! We're Here!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar