Selasa, 01 Oktober 2013

Jejak KKNPPL Part 3: Kuliah Kerja Nyata (ups Nyata coret, Kuliah Kerja Nguli) Hehehe


Dorong Oee.... (Pembersihan kolam)

Sebelumnya, postingan blogger amatiran ini masih berkisah tentang KKN yang penuh makna. Nah sekarang juga sebenarnya penuh makna walau sedikit miris juga. Jika ingat hari ini itu semua mungkin jadi bahan tertawaan yang menyenangkan, tapi jika tilik lagi ke belakang aku sungguh kasihan dengan Tim-ku.

Berangkat dari 12 orang beranggotakan 9 cowok dan 3 cewek terbentuklah resep masakan yang lezat di dalam TIM kami. Yah, tapi begitulah, resep yang sungguh tidak seimbang. Di satu sisi kami memiliki tenaga lebih yang sangat menguntungkan bagi kaum wanita (Hahaha… sorry…OOT). Tapi di sisi lain pekerjaan dadakan kami sungguh diluar perkiraan. 

Pembabatan sebelum (akhirnya ) pohon di tebang dan
menimbulkan korbanherpes sebut saja namanya "telek"
KKN PPL kami benar-benar menjadi gotong royong massal! Memang negara Indonesia menjujung tinggi rasa persatuan dan gotong royong, tapi nggak  gini juga kale… Jika kami membuka lembar kebelakang, aku berfikir bahwa tenaga tim kami benar-benar seperti seorang kuli. Bayangkan, kami (ehem…) membabat hutan (semak belungkar) di sekeliling lapangan basket, membersihkan slokan, mengangkat meja dari kelas ke kelas, membersihkan sisa bangunan dan material yang ada di sekeliling sekolah (dengan bantuan murid dan guru), dan juga membabat kolam dalam sekejab. Benar-benar tenaga yang super.

Tiga dari kami hanya bisa menggelengkan kepala melihat keringat bercucuran dari bapak-bapak yang nantinya mungkin akan menjadi guru itu. Bagaimana lagi, keterlibatan untuk hal-hal yang fisik itu sebatas menjadi dewi fortuna dan penyemangat bagi mereka (hahahahaaku sih cuek)

Titik puncak dari gotong royong yang Tim lakukan pada saat pengangkutan material sisa bangunan. Dalam dua hari Tim cowok bersama beberapa guru dan murid yang secara bergilir membantu membuang dan membersihkan sekeliling sekolah. Seingat saya material itu sebanyak 9 truk! Miris deh lihatnya, sementara lagi-lagi kami bertiga hanya mengecek, menawarkan minuman dan makanan bak pedagang asongan, serta berputar-putar di sekeliling mushola dengan membawa sapu sebagai alibi. Hehehe….

Bapak-bapak mencari ikan di kolam tanaman (loh)
Belum capek itu hilang (mungkin), Tim kembali mendapat tawaran untuk membabat (seharusnya) kolam ikan yang menjadi semak belungkar. Tanaman yang awalnya berfungsi sebagai hiasan justru menjadi duri dalam daging yang mau tidak mau harus dioperasi dan di buang. Nah, tanpa persiapan apapun berangkatlah mereka ke kolam itu dan mulai membabat tanaman dengan peralatan seadanya. Tampang bapak-bapak TIM ini yang awalnya bagus, bersih dan rapi kini berubah menjadi jelek, berlumpur hitam, kotor, bau, tidak enak dipandang, dan bikin mual (loh….). Ini semua karena tanaman jahat yang hidup sembarangan di tengah kolam dan menjadikan kami korban (loh…(lagi)). Perjuangan yang menjijikan itu akhirnya berakhir setelah mereka semua rela berpelukan dan bermesraan dengan lumpur tersebut. Setelah itu, finishing ini justru menjadi pesta ulang tahun bagi bapak-bapak yang secara ajaib berubah menjadi anak-anak. Air yang awalnya digunakan untuk mengguyur sisa lumpur dalam kolam agar bersih justru terbang ke sana kemari, menghujani siapa saja, membasahi apa saja. Belum lagi aksi kejar mengejar antara korban dan pelaku (tidak tahu siapa korbannya dan pelakunya, pokoknya saling kejar mengejar). Sampai salah satu korban sebut saja “Mewar” marah dan mengamuk pulang. Benar-benar anak-anak ini.

Over all, dari semua pekerjaan di luar kendali itu, telah selesai dilalui dengan bahagia dan juga mempunyai makna. Selain Tim menjadi lebih dekat dan akrab, Tim juga menemukan bakat baru yaitu menjadi kuli. Hahaha. Yang jelas, dari semua hal yang pernah menjadi sisi tidak mengenakkan itu terselip kenangan yang akan kami rindukan nantinya.

Nah, ini ceritaku apa ceritamu?
Kekekeke...

 Ini namanya kuli(ah) teman-teman
Slokan depan sekolah
Narsis itu penting

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar