Jumat, 25 Maret 2016

Kebuh Teh Gracia; Mencicipi (lagi) Luasnya Perkebunan Teh Sambil Leyeh-leyeh

Kebun Teh Kebun Teh Kebun Teeehhh !!!

Destinasi ke dua masih di Lembang yaitu di kebun Teh Gracia. Tak jauh dari Tangkuban Prahu, belok ke arah kiri di pertigaan pertama setelah TPR gunung (arah dari dalam taman nasional) dan kita kan menuju ke Kebun Teh Gracia, heem menurut literatur yang saya baca sih, ini masih satu kompleks dengan resort dan SPA. Tapi jangan berharap dulu, saya tidak sekaya itu untuk bersantai di resort dan menikmati kolam pemandian air panas. hiks...

Satu hal yang aneh adalah sepanjang perjalanan yang saya lihat adalah iklan sate kambing (biasa), sate kelinci (khas daerah pegunungan) dan sate biawak! Oh my God baru denger kali ini sate biawak saya. Rasanya kek apa coba? Banyangin biawaknya aja sudah membuat bulu kuduk meremang luar biasa apalagi makan dagingnya? Tapi yang menjadi pertanyaan ini biawak hasil budidaya atau biawak hasil buruan ya? Kalau buruan kok banyak sekali yang jual? Apa nggak punah tuh? Dan setelah terbengong-bengong mengagumi warung sate ini akhirnya kami sampai di kebun teh, uaah luas sekali.

Kebun Teh kebun teh kebun tehh, lagi hobi main panorama, ^_^

5,4,3,2,1 .... jebret-jebret-jebret
Teman-teman saya sudah asik berfoto sana-sini, dan saya? Saya masih melongo aja liat temen-temen yang nyempit sana sini buat berfoto. Selain sudah pernah ke kebun teh (yang notabene hasilnya sama dimanapun kita berfoto) saya memilih untuk mengamati tingkah temen-temen saya yang lucu-lucu. Aslinya saya bayangin kalau nyempil-nyempil gitu takut ketemu ulet dan uler. Hehe, jadilah saya hanya mengambil beberapa foto untuk melengkapi perjalanan saya dan setelah itu saya jadi tukang jepret temen saya. Nih anak hobi amat foto yak? Saya lari-lari di jalan aspalan yang membelah kebun teh itu sambil meregangkan badan saya yang sudah beberapa hari ini hanya duduk-duduk-dan duduk. 

Jika di bandingkan dengan Jogja atau Temanggung kebun teh di sini lebih luas dan juga di dukung pemandangan pegunungan yang luar biasa luas. Tapi teh hanya tumbuh bagus di daerah dingin dan dengan ketinggian tertentu sih, jadi tak asing jika daerah perkebunan teh berada di dataran tinggi atau setidaknya di kaki gunung. Kami hanya sekitar 30 menit berhenti di sana. Jika tidak saya dan temen saya sudah memiliki bayangan untuk singgah sejenak di warung yang kami lihat di pinggir perkebunan sambil menikmati segelas teh atau kopi ditengah dinginnya udara yang menerpa kami. Duh bak petani sukses yang tinggal leyeh-leyeh sarungan sambil menikmati hijau dedaunan. Mensyukuri hidup. Haha. Saya orang gunung dan orang desa tapi bergaya orang kota yang tetep saja ngelihat gunung dan perkebunan bersuasana perdesaan langsung terkagum-kagum dan ingin menikamati suasannya. Ketenteraman memang tidak bisa di beli dengan uang, dan moment seperti ini sangat sayang kalau untuk tidak di syukuri.

Oke, mesin bus sudah dinyalakan, saatnya mengarungi mimpi lagi untuk sampai di tempat selanjutnya, hari ini belum berakhir kawan...

Go go go!

Kan sama aja, ijo hasilnya kalau foto di kebun teh...
Enaknya buat jogging kali ya 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar