Selasa, 22 Maret 2016

Tangkuban Prahu, Lembang; Mencicipi Rasa Puncak Gunung

"Langkahku terhenti dalam titian panjang kisah hidup sang ilahi. Merasakan rasa 'mampir ngombe' yang sebenarnya, mencicipi kenikmatan-Nya dalam bayang semesta. Alangkah indah susana gunung yang telah berlalu begitu saja dalam beberapa musim ini, dan aku hanya bisa terus merindu dalam rasa haru. Dan di sini, juluran jemariku seolah mampu menebus rasa itu." Tangkuban Perahu, 29 Februari 2016 @AI
Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Hari ke dua di Bandung, sepertinya hari ini adalah hari yang panjang, banyak sekali nama tempat dalam agenda yang saya terima. Waktu masih subuh, matahari pun masih malu menampakkan sinarnya. Saya mengintip sejenak ke jendela di lantai tiga dan melihat awan mendung menggantung di sepanjang langit Bandung. Ah sepertinya hari ini matahari juga tidak akan menampakkan sinarnya, dalam hati hanya bisa berdoa setidaknya hari ini tidak hujan karena kami akan pergi ke Lembang. 

Kabut Tebal Menyelimuti Kawah serta Pemandangan sekitar, hiks
Selesai sarapan di hotel saya pun sudah stand by di dalam bus, kursi paling belakang pojokan, kursi favorit saya ketika perjalanan menggunakan bus. Kursi yang paling tinggi di mana tak ada penghalang yang menghalangi pemandangan kecuali mata saya sendiri (kalau saya tidur maksudnya, jadi ingat perjalanan 14 jam ke Jakarta yang saya habiskan sepenuhnya dengan terlelap). Kami pun berangkat sekitar jam 8 pagi, jalanan sudah cukup ramai, maklum hari Senin, hari kerja, Bandung sudah mulai ramai dan macet oleh kendaraan. Saya masih tersadar beberapa menit sebelum akhirnya saya terlelap dari perjalanan. Sempat mendengarkan beberapa nama tempat yang lumayan terkenal. UPI, ITB, Setia Budi dll yang lewat begitu saja di telinga saya. Dan jeeenng jeeeng saya sudah sampai di Lembang, di pintu masuk Taman Nasional Gunung Tangkuban Perahu. Setelah itu jalan berubah menjadi berkelok-kelok tajam yang disuguhi pemandangan alam, kanan-kiri, yang sangat alami dan indahnya. Pohon pinus berjajar rapi, jalanan yang bersih dan sepi. Tak lama kemudian bus sudah terparkir di parkir bus dan kami berganti kendaraan dengan mobil angkutan setempat, lima menit kemudian sampailah kami ke atas gunung ini. Saya sempat mencicipi dinginnya air di dalam toilet umum. Dingin sekali, se-level dengan Dieng mengingat ketinggian Gunung Tangkuban Perahu (2084 mdpl) dengan Dieng (2089 mdpl) hanya beda tipis . Saya pun siap mengeluarkan kamera dan ups....

Tempat penduduk sekitar berjualan souvenir khas,
suasananya masih tetep berkabut nih.
Sepertinya saya tidak boleh lama-lama mengeluarkan kamera di sini. Kelembaban udaranya sangat tinggi dan juga kabutnya turun begitu tebal. Terus saja terkena angin sehingga ketika ingin melihat kawah di bawah harus menunggu dan habis itu balapan dengan angin untuk menggambil foto. Cekrek-cekrek-cekrek.

Setelah puas akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan kamera dan ndompleng di kamera orang. Ikut foto sana sini atau setidaknya pake handphone, menikmati dinginnya pengunungan dan juga pemandangan yang baru bagi saya. Setidaknya mengobati rindu suasana gunung yang lama tak tersalurkan, nikmatnya. Saya pun menyempatkan diri untuk berkeliling ke sisi sebaliknya gunung ini bersama partner baru saya. Di sini kanan dari kawah ini terdapat semacam pasar yang menjual berbagai souvenir dan juga kerajinan khas, oleh-oleh dari Tangkuban Prahu. Ramai sekali pedagang di sini, tapi masih tetap bersih, dan rapi. Masyarakat sekitarpun ramah-ramah menyapa pengunjung dan banyak sekali jasa yang menawarkan bantuan untuk mengambil foto.

Menyenangkan di waktu yang sangat singkat itu karena kami hanya punya waktu satu jam di sana. Waktu sudah pukul 10.00 dan kami harus kembali menaiki angkutan untuk melanjutkan waitinglist tempat selanjutnya. Saya masih menikmati riuhnya pepohonan dari atas bus sebelum akhirnya terlelap lagi. Dasar saya emang pelor, sekali nempel langsung molor. Haha.

Lets go to the next destination!

Our Tim, yeahh!
Narsis tingkat dewa
Masih sama, mana senyumnya? kekekeke
Formasinya kurang lengkap, hmmm..

Sejauh mata memandang, kabut putih terus saja menyelimuti dalam sunyi. Sesekali angin berbisik, membuatku terbuai dalam angan untuk selalu kembali, ke sisimu... 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar