Rabu, 03 Agustus 2016

Rafting Sungai Elo, Sudah Berlalu Rasanya Masih Ngilu

Setiap kesempatan yang datang itu rumusnya satu. Get and grab it! Jika kita tak mencoba kita tidak akan berani, jika kita tidak merasakan kita tidak akan tahu, jika tidak sekarang kita belum tahu kapan dia akan datang lagi, jika, jika, jika, jika... dan jika lainnya sampai kita sadar bahwa "jika" adalah wujud dari penyesalan di kemudian hari__AI@Magelang, 31 Juli 2016

Judulnya "Masih" Teman 
Prolog yang galau menurut saya, yah, itulah kisah "jika". Saya menulisnya karena akhirnya "jika" tidak lagi menjadi penyesalan. Sudah dari semester ke dua saya kuliah (2011) saya ingin rafting tapi hanya berakhir dengan "jika" akibat penundaan yang terus saya lakukan. Jadi kenyasaran saya di lingkaran "jika" ini berkurang satu sekarang.

Hmm.. saya pikir blog saya ini akan menjamur dan dipenuhi oleh kutu buku saking lamanya nggak update perjalanan. Faktor kemalasan dan kesibukan saya untuk bermalas-malasan adalah alasan utamanya. hahaha. Lets just stop here!!

Hari ini, saya bukan muter-muter nyasar di jalanan tapi mencoba nyasar di sepanjang sungai elo. Bersama teman-teman saya mulai dari teman hidup, teman kerja, teman main, sampai dengan teman yang baru datang entah dari dunia mana dan siapa namanya, kami yang berjumlah 17 orang ini berkumpul di sebuah rumah makan Limasan di jalan arah Borobudur. Mau apa? Mau diceburin di sungai elo oleh temen-temen dari Mendut Rafting.

Dari titik start yang berbeda arah kami kini bersama-sama mengendarai colt lokal dan siap berperang di atas sungai lengkap dengan peralatan perang kami (boat, helm, dan dayung). Kami melakukan pemanasan selama beberapa menit di bawah sinar matahari (brifing sambil berjemur) dan mengosongkan isi perut aliasn ngakak (tenaga dari hasil sarapan kami terkuras oleh banyolan si pemandu). Setelah ceremonial (foto bersama selama masih jadi teman) kami menaiki boat bersama tim dan kepala suku masing-masing.
1 menit, memantapkan bokong di boat
2 menit, belajar memakai dayung
3 menit, "ayo boat depan serang" bisikan setan terdengar.
Belum ada lima menit yang lalu kami masih menjadi teman dan berfoto ceria bersama, kini masing-masing boat sudah menyiapkan rencana jahat, bersekongkol, dan mencari mangsa di boat lainnya. Jangan tanya 10 menit, 20 menit, sampai 2 jam ke depan. Adegan yang terus berulang adalah, "dipancing" dan "memancing", saya baru tahu kalau dayung bisa digunakan untuk memancing temannya hingga tertarik jatuh ke dalam sungai. Adegan perang jenis ini paling sering, tak henti-hentinya kami bergantian antara menjadi korban atau tersangka, belum lagi teknik perang lainnya menggunakan alat perang kami. Hmm, ini rafting layaknya berada di medan perang. Jeramnya terlupakan dan fokus pada teman yang berubah menjadi musuh jika ada di boat lainnya. Ramai sekali.

Foto penceburan yang kece, satunya gagal...
Banyak kejadian yang bikin ngakak, kalau ditulis semua kayaknya nggak cukup dua atau tiga part, tapi yang lucu adalah saat temen satu boat dengan saya dendam sekali ingin memancing temen dari boat lain hingga lupa bahwa dirinya adalah manusia yang paling banyak rekor kepancingnya. Terus lagi ada temen saya yang di cuci sama pemandunya. Ceritanya dia kecebur, eh ketika mau dinaikin sama pemandunya dia dibilas dulu (diblebeke=apa indonesianya ya?) baru di angkat ke boat. Belum lagi pemandu saya yang rada nggak beres, selain ide jahat yang lancar, dia juga sering sekali nyangkutin kapal di batu, dan pas mau membalikkan boat kita malah dia sendiri yang nyebur duluan di sungai karena nggak pas ngangkolin dayungnya. Kami hanya melongo saat kami sudah siap-siap nyebur, eh tiba-tiba byuuur dianya sudah hanyut duluan.

Menikmati Cengkir dan Kambil bersama-sama!
Kami berhenti di sebuah pondok dan menikmati kelapa muda dan jajanan pasar sebelum melanjutkan perjalanan mengarungi jeram di sungai elo. Setelah mengisi perut bukannya tambah semangat tapi malah tambah lemes karena kekenyangan. Kami meneruskan perjalanan dengan semangat yang berkurang. Mungkin sudah puas karena  semua awak boat sudah basah kuyup jadi tidak ada target korban yang mengiyurkan. Jeram setelah istirahat juga lebih bersahabat, hanya saja banyak ranting pohon yang jatuh di atas badan sungai sehingga kami sering tiarap untuk menghindari rating. Nah sebelum finish ini ynag seru. Dua dari tiga boat kami nyangkut dan kami harus gotong royong agar bebas dari batu yang mengepung. Ini adalah urusan dilindasa atau melindas sehingga kedua pemandu kami sibuk memberikan aba-aba agar menang di perang terakhir ini. Kami menyelesaikan arung jeram sungai elo sepanjang 12 km dalam waktu kurang lebih 2,5 jam. Menyenangkan!

Nyangkut di jeram terakhir , hmmm...
Sekembalinya kami ke meeting poin kami berganti baju sebelum menikmati jamuan makan siang berupa pecel dan lauk pauk yang mengiurkan. Sambil setengah ngantuk karena habis mandi dan makan siang kami mngebrol membicarakan kisah hari ini, berbagi cerita dari satu boat ke boat lainnya. Melengkapi cerita yang rumpang, melengkapi kisah yang kurang, dan menambah keakraban di atas meja makan. Saya tahu, antusiasmenya masih menyala, ingatan masih segar di kepala, satu sejarah terukir lagi harin ini, berlalu dan lelahnya hanya tinggal menunggu waktu. Sambil menulis catatan ini, bahu saya masih ngilu-ngilu,tangan saya masih pegal, dan paha saya masih kaku. Semuanya melengkapi dan sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan.

Terimakasih teman untuk perjalanan luar biasa ini.
Kalian keren sekali.    

Sampai bertemu di Jeram berikutnya!
People in Picture:
Ana, Galih, Indri, Tyas, Nia, Fika, Angga, Hari, Hayu, Hanief, Noordien, Akbar, Irfan, Khoirul, Dadang, Vivi, Wahyu 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar