Selasa, 12 Januari 2016

Review Novel Pulang by Tere Liye; Saat Bisikan Pulang itu Menerpa Siapa Saja dan Kapan Saja

"Sejauh kaki kita berlari, setinggi manusia bisa pergi, kita akan sampai dimana waktu memanggil kita untuk pulang."


Judul
Pulang
Penulis
Tere-Liye
Penerbit
Republika
Cetakan
Cetakan ke X , Desember 2015 
ISBN
 9786020822129

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit."
“Selalu ada hal baru yang bisa direnungi dan dipahami dari novel-novel Tere Liye.”
—Pulin Sri Lestari, ibu rumah tangga
“Saat ini kita cenderung tidak lagi peduli pada banyak hal, namun novel-novel Tere Liye membantu kita untuk melihat lebih dalam dan peduli.”
—Tiara, guru/dosen
“Kayak buku pelajaran, tapi seru. Mamah kamu nggak akan ngambek kalau kamu baca novel-novel Tere Liye.”
—Khoerun Nisa, siswi SMA
“Membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah. Berapa jauh pun kaki melangkah, selalu ingin kembali.”
—Evi, buruh migran Indonesia
Setelah lama saya meninggalkan tulisan-tulisan Tere-Liye akhirnya saya kembali memutuskan untuk kembali terjun ke dalam imajinasi dan pelajaran-pelajaran miliknya.

Pulang, 

Judul yang sangat menarik, menceritakan tentang perjalanan pulang, hakikat kata pulang dengan penuh rasa mendidik tanpa ada sedikitpun rasa menggurui. Banyak orang yang lupa akan hakikat sesungguhnya tentang “pulang” hingga mereka takut sendiri untuk mengakuinya. Setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing, entah betapa buruk masa lalunya, entah berapa sakit masa lalunya itu tidaklah penting jika mereka mampu dan berani untuk pulang. Memeluk semua masa lalu itu dan kembali suci, pulang ke pada Tuhan. 

Ya, kisah ini adalah perjalanan Bujang untuk kembali pada hakikat sejati kehidupan. Pulang. Sejauh kaki kita berlari, setinggi manusia bisa pergi, kita akan sampai dimana waktu memanggil kita untuk pulang. Lalu apakah mudah? Tidak, perjalanan Bujang pernuh dengan luka, penuh dengan penghiatan dan juga kematian. Tidak ada yang bisa menghentikannya seperti menghentikan matahari terbit dari timur. 

Bujang adalah anak dari keluarga terbuang di pedalaman Sumatera, bapaknya adalah seorang tukang pukul. Ia adalah anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan sampai sahabat bapaknya, Tauke Besar mengajaknya ke kota Provinsi dan mendidiknya. Cita-cita Bujang adalah menjadi tukang pukul hebat seperti bapaknya. Tapi Tauke Besar punya rencana lain. Setelah menyelamatkannya dari serangan babi hutan, Bujang diangkat menjadi anak dan di besarkan di kota, menempuh pendidikan dan lulus dari universitas ternama di luar negeri dengan gelar dua master. Lalu apakah Bujang tidak berhasil menjadi tukang pukul nomor satu? Tidak, Bujang berhasil menjadi tukang pukul nomor satu dan dengan kejeniusan yang luar biasa, permasalahan tertinggi keluarga Tong akan di selesaikannya dengan mudah, dengan hormat, dan tanpa takut.

Seperti novel-novel sebelumnya, Novel ini syarat dengan pengalaman, pelajaran dan juga kisah menyentuh terutama tentang kesetiaan. Hal yang saya dapatkan dari awal sampai akhir adalah tentang kesetiaan.

“Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (hal 187-188)”

Sesuatu yang mambuat kita langsung merefleksi diri, apakah kita telah setia pada prinsip hidup yang kita miliki? Pertanyaan yang sangat bagus dan mengena. 

Hal yang menjadi ganjalan hati saya pada novel ini adalah adanya beberapa part cerita yang menurut saya kurang to the point. Terlalu mendramatrisir. Tertutama pada bagian depan/ awal cerita tentang perebutan kekuasaan presiden. Saya tidak terlalu mengerti ekonomi, tapi saya setuju bahwa ekonomi perpengaruh besar pada setiap pemerintahan. Awal cerita seolah shadow economy akan mengarahkan kita ke arah pemilihan presiden tapi ternyata tidak, intinya adalah hanya untuk menunjukkan kekuatan shadow economy dan yang menjadi titik bahasan adalah pada perebutan kekuasaan antara penguasa shadow economy yang tidak berkaitan dengan pemerintahan pada prosesnya. Jadi urusan pemerintahan hanya ada di depan yang menurut saya tidak penting.

Hehe, okelah, read it by your self and you’ll understand! Bagi saya novel Tere Liye selalu worth dengan kekhasannya. Cocok dibaca untuk semua umur, eh tapi mungkin remaja ke atas mengingat kosa kata dan nilai yang digunakan terlalu berat jika untuk anak-anak. Hehehe.

4 tumbs up of 5 for this!


Happy reading!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar