Senin, 04 Januari 2016

The Moon That Embrace The Sun #1 by Jung Eun Gwol

"Kembali ke masa di mana matahari dan bulan sama-sama masih bersembunyi dan saling merindukan cahayanya masing-masing. Penuh dengan kejujuran dan kepolosan... "





Judul 
The Moon That Embraces The Sun
Pengarang
Jung Eun-gwol
Penerbit
Penerbit Mizan
Penerjemah
Rizke Radhya Burhan
Cetakan
Cetakan ke-1; November 2012
Jumlah Halaman
479 Hlm







Bagi Lee Hwon, Putra Mahkota Dinasti Joseon, hanya ada satu wanita dalam hidupnya. Yeon Woo, putri bangsawan yang anggun, menawan, yang selalu membawa harum bunga anggrek.

Namun, bagai matahari dan bulan, Hwon dan Yeon Woo tak bisa saling merengkuh di langit yang sama. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa Yeon Woo meninggal karena penyakit yang mematikan, dan Hwon pun terpaksa menyunting wanita lain untuk dijadikan Permaisuri.
Selama delapan tahun Hwon berduka, meskipun tetap menjalankan peran sebagai Raja dengan dikawal pendekar pedang yang setia, Woon. Hingga akhirnya, takdir menautkan Hwon dan Woon pada cinta segitiga terhadap Wol, cenayang misterius dengan kecantikan seperti rembulan. Anehnya, semakin Hwon dekat dengan Wol, semakin ia merindukan Yeon Woo.
Siapa cenayang itu sebenarnya? Benarkah ia semacam titisan yang membawa arwah Yeon Woo? Ataukah, ia hanya tukang tenung yang mencoba meretakan persahabatan Hwon dan pengawal setianya?

Judul novel yang sudah tidak asing lagi pastinya, hemmm… ada yang sudah tau? 

Benar novel ini mengingatkan kita pada drama korea tahun 2012 dengan judul yang sama. Drama tersebut di angkat dari novel karya Jung Eun Gwol ini. Tapi kita tidak akan membahas drama korea tersebut di sini. 

The Moon That Embraces The Sun adalah cerita kolosal yang berlatarbelakang kerajaan pada Dinasti Joseon. Novel ini mengisahkan tentang kisah cinta sang Putra Mahkota Lee Hwon dan seorang gadis bangsawan bernama Heo Yeon Woon. 

Skuel pertama dari dwilogi ini menceritakan masa kecil Putra Mahkota Hwon yang sangat usil dan nakal sehingga membuat guru-gurunya sampai bersedia mengundurkan diri dari pemeritahan hanya karena tak sanggup untuk mengatasi kenakalannya. Raja yang putus asa akhirnya menyuruh Yeom yang masih berusia 17 tahun untuk menjadi guru bagi Hwon. Hwon sempat tidak terima ketika mendengar bahwa gurunya hanya dua tahun lebih muda darinya, namun saan Hwon bertemu dengan Yeom untuk pertama kalinya, Hwon terpesona akan kecantikan dan keanggunan lelaki yang ada di dihadapannya. Hwon lebih terpesona lagi dengan kecerdasaan yang dimilikinya. Pertemuan Hwon dan Yeom membuat Hwon merasa memiliki teman dan ditambah lagi, Hwon jatuh cinta dengan Yeon Woo, adik Yeom yang bahkan belum ia temui. Hanya melalui surat-surat dan buku-buku, Hwon jatuh cinta pada adik Yeom itu. Impian Hwol untuk menjadikan Yeon woo sebagai permainsurinya berakhir dengan kesedihan panjang. Bagi Hwol, Yeon Woo adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya namun takdir telah merenggut Yeon Woo dari sisinya untuk selamanya. Kerinduan itu membuat Hwon merasakan kesedihan yang perkepanjangan sampai ia bertemu dengan cenanyang Wol . 

Sambil membaca novel ini saya juga melihat profil pemain drama korea itu untuk membentuk karakter tiap tokohnya. Pengunaan nama serta latar belakang kehidupan kerajaan membuat saya meraba-raba bagaimana pengambaran setiap latar dalam novel ini. Memang cukup sulit, mengingat banyak istilah baru yang sulit dipahami. Namun yang membuat novel kolosal-romance ini recommended adalah nilai sastra dan norma yang ada didalamnya. 

“Bagaimana mungkin mengungkapkan semua kerinduan yang panjang melalui lidah yang pendek ini? Bahwa kerinduan ini lebih panjang dari Sungai Hwangha, lebih dalam dari lautan. Apa yang bisa hampa katakana?” hal 335 

Kata-kata yang diucapkan oleh kaum bangsawan terasa romantis dengan bumbu sastra yang menandai derajatnya. Selain itu, karakter pada setiap tokoh kuat dengan budaya kerajaan dan adat kala itu. Kehidupan yang masih memegang erat kasta ini memiliki norma dan budaya yang berbeda sekali dengan kehidupan saat ini. Karakter-karakter yang ada juga sangat berkesan dengan keteguhan dan juga kesetian pada negaranya. 

Bagi saya membaca novel ini adalah sebuah pelajaran satra sekaligus contoh bagaimana hidup selayaknya manusia yang selalu teguh untuk setiap kebaikan dan takdir hidupnya. Cocok untuk semua kalangan walaupun bahasanya terlalu berat untuk dibaca seusia remaja. Hehe

Happy Reading !!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar