Senin, 09 Maret 2015

Another Thing Called Angels

Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’




Kukira kau adalah lelaki paling jahat yang pernah aku kenal
Kukira…

Air mataku mengalir bersama isakan tangisku, aku tak mampu berkata-kata. Bahkan kata maaf yang seharusnya aku ucapkan tak mampu keluar dari mulutku. Tapi dia justru tersenyum sambil mengusap kepalaku dengan lembut. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak, pribahasa itu benar-benar dibuat bukan tanpa alasan. Begitu terasanya, hingga dadaku begitu sakit saat menyadarinya.


“Maaf...” bukan, bukan itu yang ingin aku dengar darimu. Aku menggeleng cepat.

“Tidak, bukan Mas yang minta maaf, tapi aku!” aku menatap matanya yang lembut itu, “Maaf dan terimakasih.”

“Kenapa kau berterimakasih padaku saat aku membuatmu menangis?” ia bertanya sambil mengusap air mata yang mengaliri pipiku. Aku meraih tangannya.

“Aku akan baik-baik saja!” jawabku. Ia terdiam tak mengerti.

“Aku akan hidup lebih baik dan menjaga diriku, aku janji”, aku menatapnya sepenuh hati, “tapi jangan paksa aku untuk berhenti menyukaimu, untuk melupakanmu.”

“Baiklah…” ia kembali tersenyum. Malaikatku tersenyum padaku, “kalau begitu jangan lupain Mas ya...” aku memeluknya lalu mundur dua langkah. Menatapnya sambil tersenyum tulus.

Aku mengenal Rehan saat pertama kali masuk SMA. Kami terpaut dua tahun, aku masih murid baru di sekolah itu sedangkan ia sudah kelas XII. Dia adalah cinta pertamaku. Entah bagaimana ceritanya aku bisa dekat dengannya. Tak ada satupun dari kami yang mengungkapkan perasaan masing-masing. Aku sudah sangat senang bisa bersamanya seperti saat ini. 

Rehan adalah sosok yang lembut, ia selalu bisa membuatku aman di sampingnya. Bersamanya adalah hal terbaik yang aku miliki waktu itu. Namun, semua itu menjadi semu saat temanku dan temannya bertanya tentang hubungan kami berdua. 

“Dia adikku…” Rehan menjawabnya sambil menarikku dalam pelukannya. Itulah pertama kali aku merasa hal ini tidaklah benar. 

“Mas, aku menyukaimu!”

“Aku juga”

“Jadi…” aku sengaja mengantung pertanyaanku, menunggu.

“Ya, sudah sewajarnyakan kalau kakak menyukai adiknya?” Rehan tersenyum dengan begitu tulus. Membuatku tak sanggup untuk melawannya.

“Ah, ya…iya! Mas aku punya pacar!” aku menatapnya, berharap.

“Oh, siapa?”

“Teo, kelas XI…”

“Adikku uda berani pacaran ya!” ia memukul kepalaku ringan sambil tersenyum jahil, “hati-hati ya”. Aku tersenyum pahit mendengarnya. Jadi tak masalah bagiku untuk pacaran dengan siapapun? Esoknya aku benar-benar jadian dengan Teo. Sebulan Rehan tak pernah menghubungiku lagi. Oke, aku akan mencabut perasaanku untuk Rehan sebelum terlanjur. Aku bertekad.

“Kira!” Rehan berjalan kearahku, wajahnya sedikit memar.

“Kenapa?” tanyaku panik. 

“Putuskan dia!” aku menatapnya protes, “sekarang juga!” perintahnya. Aku masih tercengang dengan tatapannya. Bukan tatapan lembut seperti biasanya, tapi tatapan yang membuatku takut. Aku menghubungi Teo dan sebelum aku mengucapkan apapun Rehan sudah merebut handponku

“Jangan berani mendekatinya lagi!” setelah mengatakan itu Rehan menatapku tajam, “kalau milih cowok pikir dulu pake otak!”

Aku menangis saat ia mengembalikan handphonku dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Ucapannya begitu kasar namun hanya melihat sosoknya, hatiku justru berdetak dengan bodohnya. 

Awalnya aku memaafkannya, tapi ini sudah untuk yang ketiga kalinya Rehan mencampuri urusannku. Aku tak tahan dengan sikapnya yang pengecut itu.

“Mas pergi aja! Aku nyesel kenal sama Mas!” aku membentaknya tapi ia justru memelukku paksa. Membuatku tak berkutik dalam dekapnnya.

“Jangan seperti ini, katakan sesuatu Mas! Jangan buatku bingung! Kau selalu seperti itu! Datang saat aku mulai berdamai dengan hatiku lalu pergi begitu saja setelah menghancurkan aku! Kau kejam!”

“Mereka nggak baik buatmu!”

“Apa urusan Mas? Peduli apa kau denganku?”

“Aku peduli!”

“Kalau begitu tanggungjawab!”

“Maaf…” jawaban spontan itu membuatku kaget. Ia tak berniat untuk menjadikan aku kekasihnya namun ia bersikap seperti ini padaku. Aku tak tahan lagi dan berlari meninggalkannya. Ia seperti penjara yang menyiksaku. Membuatku tak bisa bernafas.

Penderitaan ini seperti tiada akhir. Aku lelah, hatiku kebas, air mataku mengering…

“Kira, sadarlah!” aku masih ingat saat aku pingsan di kantin, saat Rehan meraih tubuhku, dan membawaku ke rumah sakit. Entah kapan ia berada di sana, padahal kelas XII sudah tidak ke sekolah sejak ujian sekolah berakhir. Aku opnam di rumah sakit karena radang usus dan stress.

“Kau begitu beruntung berteman dengan Rehan”, pernyataan Ibu membuatku terkejut. Beruntung?

“Ibu aku benci laki-laki itu!” Ibu justru tersenyum mendengar jawabanku.

“Sayang, pikirkan baik-baik. Ibu aja tau kenapa kau tidak? Kadang yang kau lihat dan kau pikirkan justru kebalikannya”, aku marah karena Ibu justru membelanya. Tapi malam itu aku memikirkan perkataan Ibu. Aku terjaga hingga pagi karena menyadari hal penting yang terlewat dipikiranku, mantan-mantanku! Aku baru tau mereka tidaklah seperti yang aku bayangkan. Aku menangis semalaman mengingat perlakuan buruk yang kuberikan pada orang yang selama ini jutru melindungiku. Mataku masih sembab, dokter masih belum mengizinkan aku pulang, namun aku sudah merengek untuk diantar ke acara perpisahan kelas XII dan di sinilah aku sekarang. 

“Selamat atas kelulusannya ,Mas Rehan. Terimakasih telah menjagaku”, ia kembali tersenyum penuh syukur. Senyum yang akan selalu aku ingat. Aku tak peduli alasan apa yang membuatnya melepaskan tanganku, aku tak membutuhkan penjelasan apapun. Tuhan selalu mempunyai rencana tentang pertemuan, dan tak ada dari rencana-Nya yang tak memiliki tujuan.

Terimakasih. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar